Jangan Latah!

by 14:19:00 0 komentar
Jangan Latah!
"Si A lepas hijab loooh..."

"akhwat B yang itu, murtad loh, doi nikah sama si D"


"Si Z makin modis aja, Hijabnya dah kek butik berjalan"
---------------

Kabar-kabar serupa berseliweran di beranda Medsosku juga di puluhan WAG yang kuikuti.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Sesungguhnya berpalingnya hati dari kebaikan adalah sebuah musibah.


Ucapkan saja kalimat istirja, sertakan dengan doa agar kita dan saudara2 kita senantiasa diberi hidayah dan keistiqomahan. Kemudian tahanlah lisan dan tangan kita untuk berkomentar lebih jauh, terlebih komentar justifikasi seolah kita makhluk paling suci tak berdosa.

Melepas hijab, tentu bukan hal terpuji yang patut diapresiasi, terlebih perkara murtad, yang merupakan pengkhianatan besar terhadap KeEsaan Allah, Tuhan Sang Pencipta. Tapi tetap tidak menjadikannya patut dicela dan dihujat berbusa-busa.



Adalah benar, bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman.  Di mana terdapat tiga tingkatan dalam mengingkari kemungkaran yang kita temui.
Dengan tangan, dengan lisan, dan dengan hati.

Tingkatan pertama dan kedua hanya wajib bagi mereka yang mampu melakukannya. Seperti penguasa dengan bawahannya, atau seorang suami terhadap istri, anak, dan keluarganya. Yang mana perlu diluruskan bahwa mengingkari dengan tangan tidaklah berarti dengan senjata dan atau kekerasan.

Imam Al Marrudzy bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Bagaimana beramar ma’ruf dan nahi mungkar?” 
Beliau menjawab, “Dengan tangan, lisan dan dengan hati, ini paling ringan,” 
saya bertanya lagi: “Bagaimana dengan tangan?” 
Beliau menjawab, “Memisahkan di antara mereka,” 
dan saya melihat beliau melewati anak-anak kecil yang sedang berkelahi, lalu beliau memisahkan di antara mereka.

Dalam riwayat lain beliau berkata, “Merubah (mengingkari) dengan tangan bukanlah dengan pedang dan senjata.” (Lihat, Al Adabusy Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/185)

See? mengingkari dengan tangan tidak berarti kekerasan tapi lebih berupa tindakan nyata yang langsung bisa menghentikan kemungkaran tersebut.

Adapun dengan lisan adalah seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, atau dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.

Dan, tampaknya pada tingkatan inilah, kita latah mengatasnamakan amar ma'ruf nahi mungkar sehingga tangan dan lisan kita ringan sekali berkomentar ini itu tanpa memperdulikan ruang waktu. ingatlah saudaraku ada adab menasehati dengan sembunyi-sembunyi, dengan memilih perkataan yang terbaik, dan tidak diketahui orang banyak. 

Adapun berkomentar langsung di akun-akun medsos, baik di postingan pribadi orang yang dimaksud, melalui tag dan mention, maka dalam hal ini, tanyakan hati kita apakah ini bentuk amar ma'ruf nahi mungkar? bentuk menasehati dalam  kebaikan? ataukah kita sebenarnya hanya sedang memuaskan hawa nafsu kita sendiri????


Dan selemah-lemahnya bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran adalah mengingkarinya dengan hati. Tingkatan ini adalah wajib bagi setiap muslim, karena pengingkaran dengan hati seyogyanya mampu dilakukan oleh semua muslim. 
Jika kau melihat kemungkaran namun hatimu tak mengingkarinya, maka waspadalah!
Karena hatimu sedang sakit, ia tak peka pada apa yang terjadi, ia tengah kesulitan memaknai benar salah, baik buruk dan hitam putih.

Kembali kepada berita yang berseliweran tadi, tidak ikut berkomentar tidak berarti kita tak peduli, atau  mendukung semua hal-hal tersebut. Mungkin kita memilih mengambil ibroh.

Atas apa yang kita berdiri tegak hari ini, tidaklah menjamin akhir kehidupan kita. Kita tak pernah tahu dalam kondisi bagaimanakah kita berakhir.
Lebih baik atau lebih burukkah?
Beriman atau kafirkah?

Begitu pula dengan mereka yang telah kita cela dan hujat, kita tak pernah tahu ujian apa yang mereka jalani, dan who's know bagaimana pilihan kita saat ujian yang sama mendera.

Jangan Latah!!!
Tahanlah lisan dan tanganmu!
Karena bisa jadi beberapa waktu kemudian kita akan menyesali apa-apa yang telah kita ucap dan tuliskan.


Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

----------
Ref: https://muslim.or.id
 

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment