Merokok, tindakan intoleran yang dianggap lumrah

by 05:17:00 0 komentar
Lagi booming menyoal toleransi kebablasan ataupun hormat menghormati yang salah sikap. Sebenarnya dah eksis dari dulu kali ya, hanya kurang diblowup media.

Nggak percaya??? liat deh itu perokok. Berapa banyak sih perokok yang care sama sekitarnya??? Berapa banyak sih perokok yang ketika mau ngerokok pindah ke area khusus rokok? atau sekedar memastikan di sekitarnya tidak ada yang akan terganggu dengan knalpot yang dihasilkan rokoknya?

Adanya justru yang tidak merokok yang sering kali mengalah, pindah ke tempat yang udaranya lebih bersih. Atau sekedar menutup hidung dengan masker atau tangan -yang sebenarnya nggak banyak ngefek apalagi di ruangan berAC-. Bahkan orang tidak merokok yang mengingatkan perokok yang merokok di ruang publik seringnya mendapat minimal lirikan tidak senang seolah-olah pelanggar HAM fatal, belum lagi pelototan marah yang syukur-syukur tidak diiringi deretan nama-nama penghuni kebun binatang.

Aduhai, sebenarnya siapa yang tidak bertoleransi kepada siapa? Siapa yang melanggar hak siapa? Benarlah merokok itu hak pribadi yang seharusnya resikonya pun menjadi resiko pribadi. Jadi, ketika seorang perokok merokok di ruang publik, pada dasarnya merekalah yang telah mencederai Hak asasi orang lain. Hak untuk mendapatkan udara bersih, hak untuk sehat.

Sayangnya merokok ini sudah menjadi hal lumrah di masyarakat kita. Jadi, lagi-lagi orang-orang yang dirugikanlah yang dituntut untuk bertoleransi pada mereka yang melakukan tindakan intoleran.
Honestly, i hate smoker. In my mind, smoker is someone who not appreciate their selves, So how, they can to appreciate others?

Dan adalah salah satu kesedihan terbesar saya melihat orang-orang yang saya sayangi atau minimal saya anggap teman ternyata masih merokok.

My husband said : Berhenti merokok itu mudah bagi yang dimudahkan Allah, dan sulit bagi mereka yang memang tidak diberi hidayah.

Berhenti merokok juga berarti menghentikan sebuah kebiasaan. Dimana kebiasaan adalah hal sama yang sudah kita kerjakan rutin dan berulang-ulang. Maka menghentikan dan atau merubah kebiasaan tersebut juga butuh waktu dan tentu kemauan individu yang bersangkutan.

Hi you! yes, you!!! Kapan dong berenti merokok???

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment