When My Daughter cries...

by 14:41:00 3 komentar
Kesehariannya, Amma cenderung cuek bahkan tak jarang pula jutek bin judes. Pekan lalu pasca pembagian rapot hasil UTSnya, kami mengevaluasi prilakunya. Beberapa waktu belakangan aku menilai ia menunjukkan perilaku mood swing yang cukup parah. mudah ngambek, mudah marah, dan cenderung sangat emosional. Hal ini tidak hanya di rumah tapi juga di sekolah.

Libur beberapa hari kami membuat kesepakatan-kesepakatan bersama. Maka kemarin ia berangkat sekolah dengan semangat perubahan (insyaallah), Qodarullah begitu tiba di sekolah perubahan benar-benar terjadi. Ia dipindah kelas, khusus untuk pelajaran tahfiznya. Pindah halaqoh tahfiz, berarti berpisah dengan ustadzah kesayangannya juga teman curhatnya, Fatimah. Ia pun menangis dan sempat mengambek, tutur salah satu ustadzahnya.

Saat pulang dan bertemu denganku, ia marah dan mengataiku "ummi pembohong". pikirnya umminyalah yang meminta percepatan pemindahan kelas, padahal ia sudah bersepakat untuk menyelesaikan hafalan di juz 29 terlebih dahulu sebelum meminta kelas pemantapan hafalan.

Tulisan Amma yang kutemukan saat sedah bersedih
Siang itu marahnya tak lama, hanya mengambek. Ia masih enggan berkisah dan melakukan apa-apa. Ba'da mahgrib, saat murojaah  surah Al-Mulk suaranya kian lama kian serak, aku pun memperhatikannya lebih seksama, ia tengah menutupi wajahnya yang ternyata sudah berlinangan air mata. Seketika aku sadar, putriku yang tampak tangguh dan bengal ini ternyata berhati sensitif. Surah ini mengingatkannya pada ustadzah kesayangannya yang super sabar menghadapinya, juga pada Fatimah, kawan sehalaqohnya yang banyak membantunya menghafal Al Qur'an. Meski masih bertemu, tapi dengan pindah halaqoh intensitasnya akan berkurang, ujarnya sendu. Masyaallah, aku tak menyangka hatinya bisa begitu terikat dengan kawan dan ustadzahnya ini.


Syukurlah, setelah menyampaikan ke pihak sekolah, Amma di perbolehkan mengikuti kelas tambahan ayat di halaqoh lamanya dan murojaah di halaqoh baru. Namun, kejadian ini menjadi pelajaran besar bagi Amma. Ia belajar bahwa dalam hidup ada sebab dan akibat yang harus dijalaninya. Tak apa, Nak. Kesedihan dan tangisanmu itu akan menjadikanmu lebih tegar menjalani hidup dan belajar lebih tentang cara hidup.

Semoga Allah Ta'ala menjaga hafalanmu, Nak. Semoga Allah Ta'ala menjaga semangatmu, dan memberimu kemudahan untuk menghafal dan mengamalkan Al Qur'an. Amin Allahumma Amin.

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

3 comments:

  1. Tetap semangat, Amma. Teman2 baru pasti akan lebih menyenangkan nanti. :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. makasih tante ila, Amma ini tipenya agk susah adaptasi dgn lingkungan baru, makanya hal bgini aja ckup berat buat dia

      Delete
    2. makasih tante ila, Amma ini tipenya agk susah adaptasi dgn lingkungan baru, makanya hal bgini aja ckup berat buat dia

      Delete