Mahmud Abas, krisis pede di tengah lautan fasilitas.

by 15:56:00 0 komentar
Sok sibuk di dunia nyata,  membuatku terkaget-kaget ketika mendapati newsfeed di akun jejaring sosialku ramai menggosipkan si Mahmud Abas.

Asli berasa kudet sekali, karena sepanjang ingatanku tak ada 'seleb' (baik dari kalangan politikus,  entertainment,  hingga seleb fesbukiyun) yang bertajuk Mahmud Abas,  kalau Farhat Abas sih saya tau @_@

Ditambah lagi diberitakan sepak terjang si Mahmud Abas ini luar biasa aktif. Di mana ada perang  antar ibu,  entah itu masalah full mom vs working momhomemade Mpasi vs instan made food, Asi vs suforlahiran normal vs caesar,  pro kontra imunisasi,  sampai soal dukun apa dokter,  si Mahmud Abas ini senantiasa di sebut-sebut.

Sempat terpikir,  jangan-jangan si Mahmud Abas ini rekannya si Yugo the negotiator, yang kerjaannya negosiasi pelepasan sandera dalam kasus-kasus penculikan. yah paling tidak in my small mind,  aku berpikir si Mahmud Abas ini memang saudaraan juga sama pengacara seleb FA itu,  trus doi lagi kerja sosial buat mediasi ibu-ibu yang sibuk war ini itu.

Lain waktu,  aku berpikir lagi Mahmud Abas ini bisa jadi serikat baru entah dengan misi apa. Karena tak sedikit kawan-kawan di jejaring sosialku yang mengklaim dirinya sebagai golongan Mahmud Abas. Nah loh???


Ketika sudah lelah mencari who is he,  finally i found the answer, eaaaa.....

Asli,  jati diri si Mahmud Abas ini membuat hatiku jadi klepek-klepek gitu deh. Sekaligus aku jadi memaklumi banyak hal, juga mulai memahami satu dua tiga hal lainnya.

Menjadi orang tua, adalah  anugerah sekaligus ujian. Menjadi orang tua, mewajibkan kita belajar hingga ke liang lahat.  Menjadi orang tua, adalah status yang sukar diukur sukses tidaknya.

Terlebih menjadi orang tua di era ini,  dengan ilmu parenting yang berserakan minta dipungut dan dibawa pulang. Seorang ibu bisa saja menjadi frustasi sendiri ketika dihadapkan pada Pilihan-pilihan metode parenting yang beragam. Entah mengapa semakin banyak ilmu parenting yang dimiliki,  seorang ibu justru semakin menjadi gelisah galau merana. Bahkan dengan semakin bayaknya teknologi yang menawarkan kemudahan ini itu, seorang ibu muda era ini justru terlihat gagap mengasuh anak.

Aduhai,  jadi menengok ke zaman nenek dan ibu kita. Anak banyak,  fasilitas terbatas,  ekonomi pas-pasan,  toh anak cucunya,  yang notabene kita-kita ini,  tumbuh tak menjadi produk gagalkan yaaa????

Tanya kenapa????

kataku sih,  ini kataku loh yaaa,  (kalau nggak sepaham tolonglah jangan sampai saya dibully xixixi) itu karena orang tua zaman dulu itu punya rasa percaya diri tinggi.

Nah,  kita... anak tetangga montokan dikit ketimbang anak kita udah langsung down duluan,  trus jadi kepo pengen tau di kasih asupan apa,  pas dikasih tau makannya makanan instan merk ternama,  minumnya pun susu merk terkemuka,  malah misah-misuh, trus jadi penyuluhan soal keutamaan ASI dan kerennya homemade mpasi. trus jadi otot-ototan sampai melotot. Giliran pulang ke rumah,  balik deh gelisah, galau,  merananya.

See, kita nggak pede dengan pilihan kita sendiri dalam mengasuh anak kita,  kita perlu dukungan ibu-ibu lain untuk mengaminkan pilihan kita. Ketika bertemu ibu-ibu lain yang memilih jalur berbeda dalam pengasuhan buah hatinya,  rasa percaya diri kita terusik,  keyakinan kita goyah, hati kita patah (ini sih lebaaay), ujung-ujungnya para ibu yang berbeda keyakinan ini adu kuat untuk meyakinkan pihak lain bahwa keyakinannyalah yang lebih tepat. Akibatnya,  hampir di semua lini kehidupan para ibu terjadi perang opini. Capek nggak siiiih? Saya mah capek,  bacanya aja capek,  apalagi ikutan perangnya xixixi.

Anyway,   ini bukan cuman buat golongan Mahmud Abas deh,  tapi untuk saya pribadi dan kita semua, marilah bijak menjadi orang tua,  ukur kemampuan diri sendiri, ukur kebutuhan anak,  tak perlulah memaksakan diri menjadi orang tua yang sempurna, ( kita manusia kok,  jadi ketidaksempurnaan kita justru makin memanusiakan kita), cukuplah kita menjadi orang tua yang bahagia. Karena orang tua yang bahagia akan mengasuh anaknya dengan bahagia pula. Dan bukankah kebutuhan mendasar seorang anak,  adalah tumbuh dengan bahagia???

Eh,  sudah kenal Mahmud Abaskan???

Kalau belum,  sini saya bisikin....

Mahmud Abas tu,  itu loh.....Mamah muda anak baru satu.

^_^

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment