Waktu

by 10:27:00 10 komentar
"Ummi maaf ya, nanti besar Rofi akan meninggalkan ummi karena Rofi akan memiliki suami sendiri...."

Kalimat panjang itu diucapkannya dengan meminta perhatian penuh dariku. Ia dengan sengaja memegangi kedua pipiku dan memintaku menatap tepat ke matanya.

Kalimat yang ketika ia selesai mengucapkannya membuatku tak tahu harus menjawab apa.

Perasaanku tiba-tiba menjadi absurd. Entah harus tertawa ataukah menangis. Ia putriku. Baru berusia 4 tahun 4 bulan. Tak ada angin tak ada hujan, tak ada tanda-tanda yang mengindikasikan bahwa ia akan melontarkan kalimat yang demikian cetar membahana.

Kakaknya, putri pertamaku yang berusia 7,5 tahun menanggapinya dengan beristighfar nyaring.

"Ayo rofi, istighfar. Kamu itu masih kecil. Sekolah aja belum. sudah ngomong kayak begitu. Malu-maluin aja." lanjutnya pula.

Saat itu, aku hanya tersenyum dan melerai mereka yang bersiap adu mulut. Kemudian menyatukan mereka dalam pelukanku.

Bersaat-saat setelahnya, bahkan hingga detik aku menuliskannya aku masih terngiang-ngiang perkataan putri kecilku itu.

Awalnya aku seolah diingatkan bahwa anak-anakku tak selamanya menjadi anak-anak yang membutuhkanku dalam banyak hal. Perlahan-lahan namun pasti waktu merangkak mengantarkan mereka menjadi putri-putri dewasa yang akan menjalani kehidupan mereka sendiri.

Aku seolah tertampar, betapa aku menyia-nyiakan waktu kecil mereka dengan semua omelan dan kemarahanku yang tidak semestinya. Toh, mereka tak akan lama menjadi anak-anak yang mengerubutiku kemana-mana.

Suatu waktu  di masa depan kelak, aku pasti akan merindukan saat-saat dimana mereka merecokiku dengan permintaan dan kemanjaan ini itu.

Dan pada akhirnya aku menyadari, waktu memang tak bisa terulang namun ia membangun siklus  serupa. Seketika aku memahami  arti air mata di wajah mama saat melepasku pergi bersama suamiku. Sebuah moment yang kelak sangat mungkin kujalani pula,

Yah, cinta memang membuahkan rindu. Rindu yang menjadikan setiap waktu bersama menjadi lebih berharga...







sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

10 comments:

  1. kalo ingat ttg itu semua, kita akan jadi terharu ya mak...

    ReplyDelete
    Replies
    1. huhuhu iya mba, anak-anak cepat banget tumbuhnya:(

      Delete
  2. Mbk sarah.. aku nangis baca ini.rindu almsrhum ibu.
    Salam sayang buat anak2 cantik mbk sarah

    ReplyDelete
  3. insyaallah ibu mba aniek dilapangkan kuburnya ya mba.

    melihat anak-anak ini mau nggak mau saya jadi begitu memahami perasaan ibu saya.

    salam sayang jug abuat ola dan keen ya mba

    ReplyDelete
  4. teringat nasehat emakku, kalo sekarang anak2mu berantakin rumah, ribut, nikmati aja, nanti akan ada masa mereka semua dewasa dan pergi meninggalkanmu.....koq saya mendadak udah kesepian duluan ya membayangkan masa itu? :'(

    Btw, anak2 mbak cakep2 :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya mba beneeeer banget.... tapi ya aku kadang masih suka ngomel kalu liat keaktifan mereka huehuehue...

      xixixi.....makasih mama fathia:)

      Delete
  5. Aih lucu-lucu ya anak2nya Mbak Sarah ... ceriwis dua2nya :)

    Memang keeriwisan anak bikin kita tertampar2. Sy dengan Athifah pun begitu. Kalo kakaknya tidak ceriwis seperti dia. Gimana Mbak Sarah ya .. menghadapi 2 putri ceriwis :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. lucu pas lagi lucu mba niar, kalu lagi nyebelin juga bikin betanduk plus bertaring wkakaka...

      paling ribet itu kalu dua-duanya serempak mau bercerita dan meminta saya mendengarkan mereka duluan. aduuuh rusuhlah itu amma dan rofi. sampai kadang si amma berkomentar "nah ini makanya ummi itu harus dua, masing-masing anak punya ummi masing-masing, mo ngomong aja kita mesti antri"

      wkakaka...

      Delete
  6. Terharu sekali Mbak dengar kata-kata Rofi, betapa dewasanya ia,,, :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. alhamdulillah, rofi itu sudah terlihat bakatnya lebih dewasa n bijak ketimbang kakaknya mba.
      ia pandai mengajuk hati orang2 di sekelilingnya, kalu bersalah sikap dan katanya manis sekali meminta maaf:)

      Delete