Jangan berbalik, terus saja melangkah!

by 13:50:00 0 komentar


Ketika jembatan komunikasi perlahan runtuh, arah jalanpun mulai berselesih,
 dan akhirnya memilih muara kebebasan.


Pagi masih mengembun. Anak-anak masih berjibaku dengan aktivitas pagi, memakai seragam dan menghabiskan sarapan mereka. Ponselku yang tiba-tiba  berdering nyaring, membuatku dan suami saling menatap. Yang menelpon di pagi hari biasanya pastilah kerabat atau sahabat.

Dan benar saja, telpon itu dari salah satu sahabatku dari masa kuliah. Sebut saja dia Ai. Suara salamnya di seberang sana terdengar basah. Dan, rasa-rasanya aku tahu apa penyebabnya.

“Salahkah jika seorang perempuan menggugat cerai suaminya?” pertanyaan itu terlontar jua darinya. Jujur saja aku terdiam sesaat. Meski sering menjadi tempat curhatan berbagai permasalahan kawan-kawanku, sekali pun aku tak pernah menyarankan sebuah perpisahan, bahkan terbersit untuk menyarankannya saja tidak.(Maaf deh jika ternyata aku masuk nominasi manusia kolot yang masih mengagungkan ikatan suci pernikahan).

Saat itu dalam pikiranku, aku merunut cepat peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam rumah tangga Ai sejauh pengetahuanku berdasarkan curhat-curhat langsung Ai beberapa tahun belakangan ini. Kuingat-ingat juga apa yang sudah kusarankan dan apa yang sudah diusahakannya serta apa hasil dari setiap usahanya itu.

KDRT? Sejauh yang kutau tidak ada.
Perselingkuhan?Mmmm…pernah, dan kurasa sempat teratasi.
Keluarga?Aduuh, complicated deh.
Komunikasi? Nol besar.

“Seingatku, kapan waktu kamu dah pernah sidang n disidang kelima memutuskan untuk menarik gugatan? Kamu yakin gak akan menyesal?” tanyaku padanya.

Sebenarnya kali ini pun Ai sudah menjalani sidang kedua atau ketiganya, hanya saja keragu-raguan menghantuinya dan ia bertanya padaku melanjutkan gugatan cerainya atau lagi-lagi menarik gugatan.
Sebenarnya aku takut memberi saran, khawatir jika saranku ternyata merubah hidupnya ke arah yang justru tidak lebih baik.

Saat gugatan cerai pertama kukatakan padanya “Timbanglah berapa banyak manfaat dan mudharatnya jika kalian terus bersama atau jika kalian berpisah. “

Saat itu aku berdoa dengan tulus agar Ai menemukan kebahagiaan dengan apapun pilihan yang dijalaninya. Rasanya setahun berlalu, aku tau hidupnya tak menjadi lebih mudah, cobaan demi cobaan masih terus berakrab ria dalam hidupnya.

Dan pagi itu, ketika ia mencurahkan kisahnya aku tau, sekali ini aku harus keluar dari zona nyaman saran-saranku. “Jangan berbalik Ai, terus saja melangkah, lanjutkan apa yang sudah kamu mulai. Ritme hidupmu rasanya terus berulang, tak ada perubahan apa-apa. Kamu selalu kembali di titik awal. Bagaimanapun, rekonsiliasi itu dari kedua belah pihak. Jika kamu berjuang sendirian sampai kapanpun gak bakal sampai diposisi balance. Seberapa lelahnya kamu, selesaikan hingga tuntas. Setelahnya bangunlah hidupmu dari awal. Insyaallah kamu bisa beribadah lebih tenang dan hidupmu menjadi lebih baik.”

Aku benar-benar berharap aku tak mendorong Ai pada suatu keburukan. Pun aku sudah menyarankannya meminta nasihat pada pihak ketiga yang bisa menjembatani mereka berdua, atau datang saja ke BP4. 

Dari kisahnya aku belajar, bahkan pernikahan yang dibekali cinta, jika tak diiringi peningkatan keimanan akan kandas tergerus ujian. 

Ai dan suaminya memulai kehidupan rumah tangganya dari garis  start yang sama. Dalam perjalanan yang tak luput dari sandungan batu ujian itu, Ai memilih mendekat pada Tuhan dan memperbaiki kualitas hidupnya, sayangnya tidak begitu halnya sang suami.

Ai mulai merindukan rumah tangga yang islami, mulai merindukan imam yang bisa membimbing dan mengarahkannya, minimal bersedia bersama-sama memperbaiki diri dan mendekatkan diri pada Tuhan. 

Ai mengusahakannya, mengusakan perbaikan dirinya juga suaminya. Sayangnya Ai hanyalah manusia. Hidayah itu semata milik Allah, dan saat ini hidayah itu belum lagi sampai pada suaminya.
Mempertahankan rumah tangganya, tidak hanya menggerus kesabarannya, Ai lebih khawatir jika keimanannya ikut pula tergerus habis. 

Sungguh pernikahan itu tempatnya ujian dan cobaan, jika ingin bertahan tak hanya cinta yang harus dipupuk, pun keimanan perlu senantiasa ditingkatkan. Wallahu a’lam
 


sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment