Ummi tidak membutuhkan nilai 100-mu, sayang...

by 07:45:00 2 komentar



Sebagai ibu 3 orang anak, aku sangat menyadari masa kanak-kanak adalah masa bermain. Bagi kanak-kanak permainan merupakan pekerjaan serius. Karenanya sebisa mungkin aku mendidik mereka dengan permainan yang menyenangkaan. Maka aku mengajarkan mereka tentang kewajiban dengan kesenangan bermain sebagai salah satu reward.

Saat ujian tengah semester kemaren, di hari pertama aku menungguinya belajar. Melarangnya menonton TV, juga mengambil ipad-nya. Saat itu ia hanya diam dan masih bersemangat belajar. Di hari kedua, ia memasang wajah perang. Menolak belajar sama sekali. “Capeeek tau, apa-apa harus ada syaratnya. Gak boleh main keluar, ipad juga diambil, mau nonton aja harus pake belajar dulu” akhirnya keluhan itu keluar juga.


Aku hanya tersenyum, mengembalikan ipad-nya, dan mengizinkannya menonton TV atau bermain ke luar. Sesaat rasanya ingin tertawa melihat ekspresi tak percayanya. “Ummi ingin kaka belajar dengan kesadaran kaka sendiri, Ummi gak mau liat kaka jutek melulu” ujarku padanya saat itu. Dan begitulah UTS kemaren sukses dilaluinya dengan hanya belajar di hari pertama.

Saat pembagian rapot, dengan antusias ia menunjukkan nilai-nilainya padaku. Nilai yang beragam dari 100 hingga 76. Maka kami pun membahas nilai-nilai tersebut.

“Kaka liat nilai 100 ini, yang sebelumnya kita belajar bersamakan? Yang lainnya kaka belajar gak?”

“Mmmm…gak sih mi, Amma lupa jawaban soalnya pas ujian itu”

Sambil tersenyum aku berkata “Rasanya lebih senang mana dapat nilai 100 atau cuman 80 atau 76?”

“Ya lebih senang dapat 100 dong mi…” jawabnya cepat.

“Berarti….” Aku tak meneruskan kalimatku karena dengan lugas ia meneruskannya “Kaka harus belajar dulu baru nonton TV, harus ngaji dulu baru main ipad, setoran hafalan jangan lupa…. Ya…ya…ya…”. Mau tak mau aku tersenyum lebar, sebenarnya ummi tidak membutuhkan nilai 100-mu sayang, Ummi hanya ingin kamu mengerti akan kewajiban dan tanggung jawab.

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

2 comments:

  1. betul mak...kadang membiarkan anak mengikuti kemauannya ada baiknya juga, utk mengetahui dimana kesalahn anak. setuju saya mak.. sehingga anak tdk merasa terpaksa.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hehe saya juga termasuk orang tua yang santai kalu soal prestasi akademik mba. dan lagi bagi saya kecerdasan emosional dan spritualnya lebih penting, kecerdasan akademik itu insyaallah menyusul:)
      makasih sudah berkunjung ya...

      Delete