Ketika anak yang menjadi korban

by 08:29:00 0 komentar
Anak perempuan itu mengenakan baju tidur. Rambut sebahunya tampak belum tersisir rapi. Kemungkinan besar dia bahkan belum mandi. Tangan kecilnya menarik baju seorang wanita pekerja loundry "tante.....mana bapakku?" tanyanya polos.

Wanita pekerja loundry tersebut, terang saja terkaget-kaget. "Bapakmu siapa dik?." Ia bertanya sambil melirik ke kanan dan kiri. Tak ada siapa-siapa sejauh matanya memandang. Setelah wawancara singkat yang seringnya dijawab dengan anggukan atau gelengan dari sang anak yang mengaku bernama Aulia itu, akhirnya wanita pekerja loundry itu memutuskan menelpon kami.



Mungkin menjelang Zhuhur, kami baru sempat menengok ke sana. Aulia, usia anak itu kutaksir sebaya dengan putri pertamaku. Setelah diberi makan dan dirapikan. Tampaknya ia tak lagi terasa asing. Meski kami masih lupa, anak siapakah ia. Sebelum kedatangan kami, salah satu pekerja loundry lainnya bahkan sempat membawanya berkeliling kompleks perumahan untuk menanyakan jika saja ada keluarga yang kehilangan anaknya. Sayangnya usaha itu tak membuahkan hasil.

Suamiku memutuskan menelpon salah satu kenalannya di kepolisian. Mereka menyarankan untuk membawanya ke pos penjagaan. Sebelum si anak sempat di bawa ke pos penjagaan, seorang pelanggan laundry yang kebetulan datang tiba-tiba berseru kaget " Eh...ngapain kamu disini?" tanyanya pada Aulia.Wajah Aulia sendiri, masih tanpa ekspresi. Meski ia menjawab dengan singkat-singkat setiap pertanyaan yang diajukan wanita yang mengaku bibinya itu.

Lagi-lagi setelah bertanya ini -itu, kami merasa yakin bahwa wanita itu benar bibinya dan melepas Aulia dibawa pergi untuk diantar pulang ke rumahnya. Yang benar-benar menyentuh sudut hatiku adalah penjelasan bibi Aulia. Bahwa tidak sekali ini saja Aulia pergi entah kemana. Gadis cilik itu tampak tertekan dengan kondisi orang tuanya yang ternyata baru saja bercerai Duuhh.....

 Aulia mungkin sudah kembali ke rumahnya. Tapi sejujurnya aku masih terkenang-kenang tatap mata dan ekspresi wajahnya. Betapa tak sedikitpun rona bahagia terpancar di wajahnya ketika ia akan pulang ke rumahnya. Ekspresinya terlalu dingin untuk ekspresi anak-anak yang harusnya penuh rona keceriaan khas anak-anak.

gambar dari beritatips.com
Betapa aku ingin mengutuk pasangan yang begitu mudahnya bercerai hanya karena masalah yang tak prinsipal. Betapa mereka tak pernah memikirkan apa yang terjadi pada anak-anak mereka. Bagaimana psikis anak yang begitu terluka dengan perpisahan kedua orang tuanya. Mengapa sedikit saja para orang tua tak dapat mengurai ego masing-masing demi kebahagiaan anak-anak mereka. Kalaupun terpaksa bercerai karena suatu kondisi yang tak lagi bisa direkonsiliasi hendaknya perpisahan itu dilakukan dengan dewasa dan tetap mengayomi kebutuhan kasih sayang anak-anak mereka.

Pertanyaan yang memilukan juga datang dari buah hatiku " Trus mi, kaka tadi  ikut siapa? ikut uminya atau abinya?"

Kondisi yang sedikitpun aku tak bisa membayangkan jika hal itu menimpa anak-anakku. Naudzubillahi mindzalik...

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment