(Bukan) Resensi : Persona Non Grata

by 08:55:00 0 komentar

Sepetik hikmah di balik Persona Non Grata

 

Tertarik menelusuri masalah cyber crime  dan human trafficking? Permasalahan yang tengah menggumuli areal social di Negara kita ini…..
Mmmm….Baca ini kawan, kisah ini akan melemparkanmu ke sisi lain Indonesia yang mungkin jadi sangat jauh dari bayanganmu. Ini fiksi yang tak berangkat  jauh dari kisah nyata….Cekidot yuk ^_^

Judul buku     : PERSONA NON GRATA (Yang Terbuang)
Penulis           : Riawani Elyta
Cetakan         : Desember 2011
Penerbit         : Gizone (Indiva Media kreasi)

Membacanya, seolah Agatha Cristie yang sedang bertutur padaku. Namun, dalam tutur yang lebih ringan tapi tentu tak kalah memikat dan tetap sarat makna….

Novel ini di buka langsung pada episode yang mendebarkan. Seorang gadis yang   nyaris gagal menyelesaikan transaksi belanjanya dengan sebuah  kredit card. Untungnya sang “teman”, Dean berhasil segera menyelesaikan masalah tersebut. Meski pada akhirnya sang gadis harus menuai kemarahan Dean akan peristiwa tersebut. Mmmm…bisa di duga tentu Credit card tersebut palsu.


Sementara itu, di sisi lain negri ini berkumpullah mahasiswa-mahasiswa dengan kecerdasan di atas rata-rata tengah melaksanakan aktivitas “gelap” di balik layar laptop masing-masing. Mereka adalah sekumpulan Crackers yang di kepalai sosok berjuluk “The prince”. Kelompok mereka dinamai Cream Crackers. Dalam kelompok inilah Ioran bergabung. Ia menyimpan dendam masa lalu pada lembaga perbankan yang menyebabkan tewasnya orang terdekatnya. Dendam itu menjadikannya ambisius, membuatnya mencoba mengalahkan the prince untuk menjadi yang terbaik. Apa yang dilakukannya dan bagaimana tanggapan the Prince demi menghadapi polah sang anak buah???? Atau justrukah the Prince berhasil memanfaatkan ambisi Ioran  demi mencapai ambisi pribadi The Prince?

Adalah Dean Pramudya putra seorang pengusaha ternama yang tumbuh besar dalam kemewahan. Apa yang mengaitkannya dengan semua credit card palsu dan kelompok Cream crackers? Ya kaitan yang jelas, karena Deanlah sosok asli dibalik The Prince.

Demikian Hal yang dibuka secara gamblang oleh penulis di bab-bab awal novel ini. Kehilangan mistery yang merupakan pemikat pada genre serupa, membuatku sedikit kecewa.  Mungkin akan jadi lebih  menarik jika penulis membiarkan pembaca menebak-nebak hingga akhir  apa sesungguhnya hubungan Dean dengan the prince.

Tapi Jangan khawatir kawan, sekalipun kalian bukan penyuka dan jauh dari kesaharian hal-hal yang kusampaikan di atas. Penulis ini cukup piawai untuk mengemas permasalahan cyber crime ini dalam nuansa dan tutur yang tak membuat keningmu berkerut. Sebaliknya, bisa jadi kalian akan menemukan muara pengetahuan baru yang selama ini begitu malas untuk tercerna.

 Bersetting Batam dan Jakarta, penulis cukup mampu mendeskripsikan keindahan kedua kota tersebut sekaligus menghadirkan sisi-sisi gelap kota yang selama ini enggan kita akui sebagai manusia yang notabene bermukim di negeri ini.

Bertutur pula novel ini, tentang seorang gadis belia yang terpaksa menjalani profesi sebagai pelacur dengan gelar “Miss Favourite”. Pertemuannya dengan Dean, melemparkannya dalam perjalanan panjang yang tak kalah getirnya. Disangka tak waras di sebuah Ruli yang kumuh. Melakukan pelarian panjang hingga terdampar di sebuah yayasan sosial yang intens mengurusi penyakit HIV/AIDS.

Gadis yang mengaku kehilangan ingatan ini akhirnya diberi tajuk “Sarah”. Kehidupan singkatnya di yayasan tersebut mempertemukannya dengan Malika, gadis sholehah yang ternyata mengidap penyakit berbahaya tersebut. Pertemuan singkat itu, ternyata mampu menggetarkan rindu Sarah pada kenangan kecil akan sebentuk masjid dan aktivitasnya yang duluuuu sekali pernah akrab di hari-harinya.

Benarkah Sarah kehilangan ingatannya? Dan apakah rahasia masa lalunya yang begitu ingin dihindarinya? Mengapa akhirnya sarah lagi-lagi harus melarikan diri dari yayasan yang telah membangkitkan rindunya itu?

Bagian Ini mempresentasikan dengan apik kehidupan para korban human trafficking. Kisah-kisah getir yang seringkali terabaikan dengan ekspos kisah selebritis yang semakin menjadi candu bagi masyarakat kita. Lagi-lagi penulis menyampaikannya dengan bahasa memikat yang membuat rasa tak lelah untuk terus menikmatinya. Dengan Background lokalisasi yang memang menjamur di Batam, kisah ini seolah memiliki ruh yang begitu menyatu dengan pembaca. Fenomena penderita HIV/AIDS yang seolah tabu untuk diperbincangkan, menjadi sangat layak tampil sejajar kisah-kisah fenomenal lainnya. Sekaligus memberi ibroh tersirat bagi pembaca. Sungguh kawan, membacanya bukanlah suatu kesia-siaan.

Keputusan Dean untuk membawa Sarah dan memulai kehidupan baru setelah melaksanakan “Proyek” terakhirnya nyatanya tak pernah berlangsung. Sesaat setelah meninggalkan Sarah di rumah yang dibelinya untuk mereka, Dean di ciduk polisi pada  transaksi illegal yang seyogyanya akan menjadi proyek terakhirnya itu.

Seperti apa perjuangan Sarah untuk kembali bisa menemui Dean? Cara yang akhirnya membuat sepak terjang Dean terendus polisi. Siapa informan yang menyebabkan Dean tertangkap? Dan   bagaimana pula kelanjutan hubungan Dean-Sarah? Banyak hal tak terduga terus bermunculan, hingga pembacapun menjadi tak sabar untuk melahap habis novel ini.

Jika kalian menginginkan sebuah Happy ending untuk kisah ini, bersiap-siap kecewa kawan. Terlebih jika happy ending yang kalian maksud adalah bersatunya Dean dan sarah dalam kebahagiaan hidup. Bagiku pribadi, kisah ini bukannya tak happy ending , toh masing-masing tokoh menemukan hikmah dari perjalan hidup mereka. Sedalam hikmah yang mampu ditangkup pembaca dari novel ini. Namun begitu, tetap termaknai segumpal sesak di hati begitu membaca akhir kisah ini. Ya apapun itu, setelah membaca kisah ini semoga  kita bisa lebih bijak memaknai kata bahagia itu sendiri.

Riawani Elyta, penulis yang telah menelurkan 4 buah novel dan belasan antologi. Kukenal aktif di salah satu grup penulis di facebook. Dimana beliau berperan sebagai salah satu “suhu” yang tak pernah sungkan dan gerah membagi ilmu pada pemula sekalipun. Dan perkenalanku dengan beliau kian intens melalui  novel-novel cerdasnya (Tarapuccino dan Persona Non Grata) yang baru saja kukhatamkan.

Senantiasa menyajikan puzzles menarik di setiap potongan kisahnya. Merangkainya dalam plot-plot indah yang tak kehilangan focus meskipun seringkali meloncat-loncat cepat. Dan akhirnya tak ada kata-kata lain yang bisa saya ungkapkan, anda semua pantas membaca kisah ini. Petiklah hikmah yang selama ini mungkin terabaikan meski banyak berseliweran di sekeliling kita.

At least....happy reading friends!  Catch that inspiring!!!!

regards,

Sarah ^_^

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment