A great Dad

by 08:18:00 0 komentar

Berbanding terbalik dengan penampilannya yang tinggi besar, dan jenggotnya yang kadang berantakan. Bahkan dengan suaranya yang keras dan seolah seperti berteriak, suamiku tetaplah idola bagi anak-anakku.
Dede rofi
 
Suamiku asli putra Palembang. Keras dan tegas demikian sifatnya. Suamiku sangat tidak suka jika mendapati anak-anakku, Amma dan Rofi menangis bombay tidak jelas. Enyek-enyek begitu istilahnya. Adapun aku seringkali terperdaya tangis bombay si kaka, Amma. 


Sedari kecil, jika berhadapan dengan aku uminya yang tidak sabaran, kaka selalu mengeluarkan jurus tangis bombaynya jika menginginkan sesuatu, atau jika keinginannya lambat kupenuhi. Demikianlah jiwa emak-emak, aku sering kali tak tega, sering pula tidak sabaran menghadapi tangisannya. Dan…taraaa, dapatlah ia dengan apa yang diinginkannya.

Terang suamiku amat sangat tidak setuju dengan sikapku itu. Itu tidak mendidik anak, malah menjerumuskannya menjadi anak manja. Demikian keras ujarnya. Dan herannya baik Amma maupun adiknya memang tidak pernah menangis lama-lama jika berhadapan dengan abinya. Semula kupikir oleh takut mereka demikian. Belakangan kusadari bagaimana suamiku memperlakukan mereka tatkala heboh menangis.

Pertama, dengan suara tegas namun tidak berteriak suamiku memanggil dengan menyebut nama lengkapnya. “Ammatullah”. Efek dari menyebut nama lengkap itu ternyata besar, Amma akan sedikit meredakan tangisnya “apa?” katanya. Dan ya jalan untuk bernegosiasi terbuka. “Ingat ya, dengan menangis kaka gak akan dapat apa-apa, sekarang berhenti menangis dan cerita yang jelas apa dan kenapa kaka nangis” . 

Kata-kata itu diucapkan dengan lembut tapi tegas. Yang bagaimanapun mencoba, aku tak pernah bisa menirunya. Suara cemprengku lebih sering terdengar laksana omelan menyebalkan ketimbang suara lembut nan menenangkan. Kurasa kharismanya itu bawaan orok. Tak bisa ditiru. Hufff….

Haa, herannya dengan segera Amma akan berlari ke pelukan abinya. Dan dengan manja bercerita ini itu, atau meminta ini itu. Semua permintaannya tidak melulu dipenuhi. Tapi selalu percakapannya dengan abinya memberinya kepuasan. Bahkan hal ini berlaku pula pada adiknya, Rofi yang bahkan belum genap berusia 2 tahun. Suamiku mengajaknya bicara seolah-olah menghadapi anak yang sudah besar. Benar-benar di ajak bicara. And its work….!


Lain lagi jika menyangkut kekerasan. Amma, putriku yang bertangan ringan. Ringan memukul orang lain maksudnya. Aku yang sudah kehabisan ide dan akal untuk menanganinya, terbelalak kaget. Bagaimana tidak, setiap aku bercerita kepada suamiku tentang kelakuan Amma di hari itu yang berkaitan dengan tangan ringannya. Dengan tertawa suamiku akan memanggil Amma. “Kenapa kaka? Mau goco-gocoan ya? Sini sama abi”. Maka, dengan heboh mereka akan bermain tinju-tinjuan. Sambil tertawa terkekeh-kekeh yang tak akan berhenti sebelum aku mengomel panjang lebar.
“Ingat ya kak, kalau mau main begini sama abi aja, jangan sama yang lain. Kalau abi gede jadi kuat. Gak semua orang suka main tinju-tinjuan. Apalagi umi, pasti langsung ngomel kalau kaka tinju-tinjuan” Mereka tertawa bersama, dan dengan lantang Amma akan berteriak  “Iya bi…”. Huh….. alangkah manisnya Ia di depan abinya.

 “Yang sabar dek, Amma gak jahat kok, itu caranya ingin bermain. Diluruskan aja pelan-pelan” petuah suamiku lembut, Haaa…kusadari yang kurang bukan Amma tapi kesabaranku yang ternyata sangat terbatas. Tak mampu mengikuti semua keaktifannya.
Eit, jangan dikira dengan semua kelembutan dan ketenangannya itu Suamiku tak bisa marah. Hohoho, justru saat marahnya adalah saat–saat jarang yang begitu dihindari anak-anakku. 

Ada suatu waktu, keletihan begitu mendera suamiku setelah perjalanan panjang dari tugasnya. Setibanya di rumah kerusuhan yang ditimbulkan Amma menyambutnya. Amma baru saja berulah yang menyebabkan sepupunya benjol biru dan lebam. Saat aku menasehatinya, Amma justru marah dan mengamuk-ngamuk. Di moment itulah abinya datang. Dan suamiku paling tidak suka jika anak-anak mengamuk hingga menyakiti aku, uminya. Dengan wajah memerah menahan amarah, suamiku melipat koran bekas. Dengan Koran itulah Ia memukul kaki Amma. Tidak keras, tidak meninggalkan bekas “Kalau bermain tidak begitu caranya, kalau melukai orang lain itu jahat namanya. Abi tidak suka. Allah lebih tidak suka”. Demikian kata-kata suamiku.

Sambil menangis tersedu-sedu dan menahan takut menurutku, Amma  mengangguk kuat-kuat. “Dengerin umi, sayangin umi, gak boleh pukulin ummi lagi’ ujar abinya lagi. Akulah yang pada akhirrnya tak tega, maka dengan cepat aku melerainya dan memeluk Amma. “Tuh liat, betapa umi menyayangi Amma” ujarnya lagi. Sambil menangis sesenggukan dalam pelukanku Amma meminta maaf.

Kaka Amma
Lebih dari itu semua, kemarahan abinya adalah shok terapi baginya. Dibandingkan aku yang setiap saat marah-marah, tentu kemarahan abinya yang sangat langka itu begitu membekas di hatinya. Amma bahkan tak bisa tidur sebelum yakin bahwa abinya sudah tak marah lagi padanya. Dengan takut-takut ia kan mendekati abinya dan mengulurkan tangan meminta maaf. 

Suamiku tak langsung memaafkannya. Suamiku akan bertanya “Amma tau kenapa abi marah?”. “Iya bi….” Maka Amma akan melakukan sebuah pengakuan dosa. Jika sudah demikian barulah abinya akan memeluk dan menciuminya. Tentu saja dengan petuah lembut untuk tak lagi mengulanginya. Mmmm...lagi-lagi aku belajar kapan harus bersikap lembut dan kapan harus menunjukkan kemarahan.
***

Dalam bincang-bincang ringan aku dan suamiku, barulah aku tahu alasan di balik semua sikap lembut namun tegasnya. Tumbuh dalam lingkungan dan adat yang keras, membuatnya tidak asing dengan kekerasan. Suamiku bahkan pernah membuat bocor kepala teman bermainnya saat seusia Amma. 

Menurutnya, ibunya yang saat itu memarahinya habis-habisan membuat perasaannya terluka. Tanpa bertanya apa dan mengapa Ia berlaku demikian. Padahal anak kecil juga punya hati dan perasaan. Dan ayahnya lah yang berlaku adil dan membelanya. Bukan kesalahan yang harus dibela. Tapi tidak menyudutkan anak sehingga Ia mau mengakui sebuah kesalahan, itu poin pentingnya.

Aku mengangguk-angguk paham. Dan dari suamikulah aku belajar kekuranganku sebagai ibu dalam mendidik anak-anakku. Bagaimana memadukan kelembutan dan ketegasan dalam pola pengasuhan. Ternyata, tidak hanya bagi anak-anak, namun bagikupun suamiku adalah sosok idola yang membanggakan.
He is really a great dad!!!

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

0 komentar:

Post a Comment