Lingkaran kebaikan

by 07:14:00 13 komentar


“Kebaikan itu ibarat sebuah lingkaran. Jika kita memulai sebuah lingkaran dari suatu titik maka ujung dari lingkaran itu adalah titik awalnya. Demikian pula dengan kebaikan jika kita memulai sebuah kebaikan, maka ujung dari kebaikan itu akan kembali pada diri kita sendiri”.
Sejak awal pernikahan, aku dapati suamiku adalah seorang pria sholeh yang sangat pemurah. Dalam kondisi berkecukupan maupun kekurangan ia selalu siap sedia menolong orang-orang  yang membutuhkan. Ia tak segan-segan meminjamkan uang kepada orang-orang yang memerlukan tanpa harus mengembalikannya. Terkadang, ia meminjamkan modal pada teman-temannya yang akan memulai usaha, jika tidak bisa membantu dalam hal keuangan maka ia akan membantu mereka dengan tenaganya. 
Terkadang yang dilakukannya hanyalah hal-hal remeh temeh yang seringkali kuanggap tak bernilai seperti menyingkirkan kayu di jalan, merawat tanaman yang sudah layu, atau sekedar membagi senyuman pada orang-orang yang ditemuinya di jalanan. 
powered by google

Meski tak pernah terucap tanya dari bibirku, seolah paham suamiku menjelaskan.  “Bisa melakukan kebaikan itu juga salah satu rezeki. Ada masanya kita ingin membantu orang lain tapi kita tak menemukan orang yang akan kita bantu. Atau ada orang yang meminta bantuan tapi kita sedang tidak bisa membantunya. Jadi, selagi ada kesempatan membantu orang lain lakukanlah. Insyaallah akan ada balasannya, jika tidak di dunia maka jadilah itu sebagai tabungan kita di akhirat.” 
 Adapun sisi lain dari suamiku yang pemurah adalah bahwa ia juga sosok yang pembosan. Syukurlah hingga detik ini ia belum menunjukkan tanda-tanda kebosanan terhadap aku, istrinya. Sifat bosannya lebih pada urusan pekerjaan. Maka jadilah ia sosok yang resignholic. Setiap kariernya mulai menanjak ia akan dengan segera mengajukan surat resign. Dan untuk sementara ia akan sibuk dengan impiannya menjadi seorang wiraswasta yang sukses. Meski takdir masih menuntunnya menjadi pegawai hingga berkali-kali, hal itu tetaplah tidak menyurutkan impiannya untuk menjadi pure pebisnis, bos atas dirinya sendiri. Jadi, jangan tanyakan berapa kali ia telah mengajukan resign.
Sebagai seorang istri, maka kewajibankulah untuk terus mendampinginya seberat apapun pilihan yang telah dijatuhkan oleh suamiku. Bukannya tak pernah protes, aku justru kerap menumpahkan ketidakmengertianku atas pilihannya yang seolah anti kemapanan. Namun, pembicaraan itu akan terus berlanjut dengan riak-riak pertengkaran yang sama sekali tidak aku sukai. Seiring waktu aku mulai belajar menerima semua kekurangan dan kelebihan suami tercintaku. Meski perjalanan untuk bisa lebih mengenal dan saling mengerti itu tidaklah melulu manis, aku merasa bangga tatkala bisa memaknainya sebagai the reviving moments.

Ada sebuah masa, ketika suamiku mulai merintis sebuah usaha sendiri. Proyek dengan nilai ratusan juta bahkan sudah mulai dikerjakannya. Namun, karena satu dan lain hal suamiku memutuskan melepas perusahaan tersebut dan menyerahkan lanjutan proyek yang dikerjakannya pada rekan kongsinya selama ini. Saat itu suamiku mengajakku hijrah ke kota lain untuk memulai hidup baru. Sekali lagi aku merasa diuji. Dengan seorang putri yang kami miliki saat itu, aku sungguh menyesalkan banyak hal yang menjadi keputusan suamiku. Keputusannya untuk resign padahal kesempatan menjadi Officer di sebuah Bank terkenal sudah menantinya. Aku juga menyesalkan keputusannya saat memilih melepas proyek yang sudah didapatkannya. Namun suamiku hanya berkata “Aku mampu memberikanmu rumah mewah ataupun mobil mewah dari apa yang sudah kulepaskan, tapi aku takut jika sedikit saja harta haram mengalir di tubuhmu ataupun buah hati kita, bahkan jika itu sekedar keraguanku semata”. Dan, jika ia membenturkanku pada masalah yang terkait halal haram aku sungguh tak bisa protes, selain mendukungnya dan melewati semua yang akan terjadi kemudian.
Sebuah hal yang begitu mengharukan dan sama sekali tidak pernah kuduga terjadi di hari kepergian kami dari kota tersebut. Subhanallah…. teman-teman yang dulu pernah dibantu suamiku berkumpul dan beramai-ramai mengantar keberangkatan kami. Mereka juga bergantian memeluk suamiku sambil membisikkan doa dan kata-kata penyemangat…..”insyaallah kita akan bertemu lagi” begitu kata mereka.
“Kau lihat dek, meski tak berupa materi  hangatnya persaudaraan itu memberikan kekuatan dalam setiap langkah…” suamiku tersenyum dan perjalanan panjang kami saat itu terasa ringan dan menyenangkan. Bahkan kami masih bisa bercanda di sepanjang perjalanan, meski kami tak tahu setebal apa kabut masa depan yang menghadang kami.
Di tempat baru, tentu kehidupan kami tak senyaman saat-saat dulu. Ada masa-masa jatuh bangun yang menguras air mata, dimana para kerabat dekat tidak memberikan bantuan sama sekali, meski kamipun tak mengharap uluran tangan mereka. Terlebih ketika mereka justru mencemooh setiap hal yang kami usahakan.
Sungguh, aku rindu teman-teman di tempat lama. Meski tak ada hubungan darah dan di kelilingi kehidupan yang sederhana,  mereka begitu pandai mensyukuri setiap nikmat yang mereka terima. Mereka begitu bersabar atas setiap kesulitan yang menimpa.
 Hal ini sungguh berbeda jauh dengan keadaan kami saat ini. Kami berada di tengah-tengah keluarga, tapi tanpa rasa kekeluargaan. Kehidupan mereka yang berkecukupan membuat mereka menilai seseorang berdasarkan materi yang mereka miliki. Dan bagi mereka kami hanyalah sekelompok orang yang telah gagal. 
Saat aku membagi kesedihan pada suamiku, ia membawaku berkeliling dan masih tetap tersenyum suamiku berkata “jangan melihat ke atas dek, tapi lihatlah ke bawah…”. Ia menunjuk sekolompok anak-anak yang sedang bergelung di bawah jembatan, dengan baju lusuh dan robek-robek. “Dibanding mereka kita masih jauh lebih beruntung, kita masih bisa makan 3 kali sehari, punya tempat bernaung yang layak, dan punya bidadari kecil yang menyejukkan mata kita tatkala letih menyapa”.
 Sungguh, aku tersentuh melihat pemandangan di bawah sana. Kupeluk erat buah hatiku, Ya Allah…ampuni aku yang telah berkeluh kesah di tengah semua nikmat yang masih Engkau anugerahkan.
Di masa-masa itu silih berganti mereka, orang-orang yang pernah dibantu suamiku bergantian menelepon, dari yang sekedar menanyakan kabar, berbagi cerita, dan saling menguatkan bahkan yang mengejutkanku beberapa dari mereka yang telah berhasil dengan usahanya mentransfer uang ke rekening suamiku. Ketika suamiku berkeras menolaknya mereka berkata “ Jangan membuat kami kehilangan kesempatan untuk membalas kebaikanmu, kami tau engkau dulu ikhlas membantu kami tapi anggaplah ini sebagai pembayar utang kami yang dulu”.
Subhanallah…Maha suci Allah. Sungguh kebaikan yang kita perbuat akan kembali kepada kita dalam keadaan yang tak pernah kita sangka-sangka  Lebih dari sekedar materi, bagiku dan juga suami kebaikan yang tak seberapa ternyata mempertemukan dan  mengumpulkan kami dengan saudara-saudara seiman yang begitu berharga.
Hari-hari yang sulitpun tak lagi terasa berat, aku mulai terbiasa dengan kehidupan baruku. Terlebih Allah tak pernah meninggalkan kami. Selang beberapa waktu usaha kami mulai berkembang dan suamiku lagi-lagi mendapat panggilan kerja dengan posisi baik di salah satu Islamic Bank di Indonesia. 
Kerabat yang dulu menjauh dan mencemooh kini kembali bermanis muka dan datang memuji-muji. “Sekarang kau tau dek, yang mana teman sejati dan yang mana sekedar teman? Keluarga itu bukan seberapa kentalnya hubungan darah, tapi keluarga adalah mereka yang menopangmu saat suka maupun duka” suamiku berkata sambil tersenyum. Tentu sekarang aku paham kata-kata suamiku, sama seperti kata-kata yang dulu diucapkannya saat kami akan meninggalkan kota kami yang lama.
Kini, 6 tahun lebih kami bersama. Allah telah menganugerahi kami 2 bidadari penyejuk mata. Sifat dan sikap suamiku masih sama seperti dulu, bahkan beberapa waktu lagi ia akan segera resign kembali dari tempat bekerjanya selama 2 tahun belakangan ini. Sekali lagi aku mencoba bernegosiasi, namun suamiku masihlah sosok yang dulu dengan setiap detil idealismenya yang terkadang mudah diucapkan namun terasa berat dilaksanakan bila tanpa keikhlasan. 
Sampai detik inipun, aku masih terus berusaha berdamai dengan hatiku sendiri. Mendukung sepenuh hati pilihan seorang suami yang terkadang tak sejalan dengan keinginan hati bukanlah sebuah perkara mudah. Namun sekali lagi aku memaknainya sebagai the reviving moments.Sedikit banyak pemaknaan tersebut membuatku bisa tersenyum lebih manis. Aku merasa jauh lebih siap menjalani apapun surat takdir yang membentang di hadapanku. Sebuah keyakinan mulai tumbuh di hatiku, keimanan membuat kita mampu menjalani setiap hal dengan tanpa keluh.
Yang pasti perjalanan biduk rumah tanggaku hingga hari ini memberi banyak ibrah bagiku dan juga suami. Mendewasakan cara berpikir kami, dan membuat kami lebih menghargai arti sebuah kebaikan seberapa kecilpun kebaikan itu. 

Apapun dan bagaimanapun kisah hidupku terjalin, hatiku meyakini bahwa setiap detik kehidupan kita selalu membawa hikmah, dan tatkala kesyukuran telah meniti setiap nadi kita, maka percayalah apapun itu adalah hal terbaik yang telah ditetapkan Allah untuk hamba-hamba-NYa yang beriman.

Let's move on friends......!!!!
Ya Allah…berkahilah keluarga kecilku, eratkan cinta di hati kami dan jadikanlah kami hamba-hambamu yang saling mencintai semata-mata karena kecintaan kami terhadapMu
Ya Allah…kumpulkanlah kami dalam kebaikan yang berlipat-lipat dan jadikanlah kami hamba-hambaMu yang pandai bersyukur atas setiap nikmatMu…
Aamiin…Allahumma aamiin.
********
  “Tulisan ini diikutsertakan pada Monilando’s First Giveaway

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

13 comments:

  1. Aamiin ya robbal 'alamiin, semoga keluarga kecilnya senantiasa diberkahi Allah dan dimudahkan di setiap langkah ya mbak..

    Keyakinan adalah salah satu kekayaan Muslim yg terbesar...

    Makasih banyak atas partisipasinya ya mbak, salam ukhuwah :)

    ReplyDelete
  2. makasih atas kunjungannya ya mba monik.....

    salam kenal dan salam ukhuwah:)

    ReplyDelete
  3. Saya setuju dengan beberapa hal:
    - Mari lakukan kebaikan selagi kita ounya kesempatan karena peluang itu tidak akan datang berkali-kali. Jangan sampai kita menyesal.
    - Betul, hubungan persaudaraan lewat darah kadang kalah oleh hubungan persahabatan seiman yang tak jarang bahkan lebih baik daripada saudara kita sendiri. Ini juga terjadi dalam keluarga kami. Kami berat meninggalkan kota tempat kami tinggal sekarang karena tak ingin berpisah dari teman-teman hebat dan penyayang di saat sedih maupun suka.
    - Salut dengan prinsip suami Anda yang masih memikirkan tentang halal-haram di dunia modern dan gila ini. Sebab hal itu sudah banyak diabaikan orang padahal dampak terhadap perilaku sangat besar.
    - Saya kadang seperti suami Anda yang tak betah kerja di satu tempat. Sekarang saya full ada di rumah bekerja sebagai freelancer. Ya selalu saja ada rezeki untuk keluarga kecil kami walaupun jumlahnya tidak fantastis dibanding teman2.
    - Bersyukur memang berat. Dan betul kata suami Anda, kita tak punya alasan untuk mengeluh atau mengutuk keadaan diri sendiri karena keadaan kita sebenarnya masih jauh lebih baik dibanding orang lain. Kita tidak kehujanan, bs makan sekian kali dengan kenyang, minum dengan segar, dikasih amanah berupa anak (yang sangat dinantikan banyak orang), dan kenikmatan kesehatan.

    So mari kita saling menyemangati untuk memanfaatkan peluang hidup untuk beribadah dan berbuat baik kepada siapa saja. Kalau bisa, perbuatan baik kita berikan juga kepada orang2 yang belum pernah berbuat baik kepada kita, agar lingkaran kebaikan semakin meluas dan membesar. Begitu yang saya ingat dari sebuah acara talkshow peluncuran buku beberapa tahun silam.

    Salam kenal dan silakan bagi link-nya di WB atau warung blogger agar kisah menarik Anda bisa dibaca dan mengilhami banyak pembaca...

    ReplyDelete
  4. makasih sudah berkunjung mas walank ergea ^-^

    salam kenal kembali, dan terima kasih sudah merangkum kisah saya dengan begitu lengkap. membaca komentar anda sekali lagi saya bisa memaknai kisah hidup saya sendiri dengan lebih baik.....

    insyaallah akan saya bagikan linknya di WB....:)

    ReplyDelete
  5. Kuatkan hati mendampingi suami yang begitu istiqomah dlm prinsip keimanan yg baik. Ridha Allah lebih utama dan indah hasilnya.

    Semangat ya mbak...

    ReplyDelete
  6. Wah, ada yang mampir neh jauh2 dari Jakarta Barat buat kasih komentar dan dukungan buat mbak Sara. Sampe dibela-belain tutup lebih awal...awas lo Bun, ada belalang iseng yang ngincer udang rica-rica xixixix....

    ReplyDelete
  7. Mohon maaf Mbak Sara, tanpa seizin Anda saya langsung impor link Mbak di warung blogger. gapapa ya? Habis biar lebih banyak orang paham dan menyadari akan pentingnya hidup syukur dan tetap peduli sama halal-haram dalam hal apa pun...

    Salam untuk suami Anda dari saya Mbak! Moga-moga kapan2 bisa berjumpa darat. :D

    ReplyDelete
  8. makasih mba niken....ini bunda fahty kan???? salam kenal ya.

    benar mba ridha Allah dan ridha suami itu yang paling penting:)

    ReplyDelete
  9. iya gak apa mas walank.......makasih loh sudah mengenalkan saya ke WB:)


    insyaallah kapan-kapan bisa jumpa darat mas dengan suami saya.

    Btw mang tinggal dimana ya?:)

    ReplyDelete
  10. duh,,,berbahagia sekali keluarga jeng SARa YA, suami yg istiqomah thdp kejujurannya dan istri yg sellau sabar mendampingi walau kadang terheran2, salam kenal jeng dari Jambi :D

    ReplyDelete
  11. Aamiin
    berbuak baik memang tak pernah rugi
    karena kebaikan pun kan kita dapatkan tanpa dipinta :)

    ReplyDelete
  12. great.... terima kasih, ceritanya sungguh inspiratif.
    mampir juga ya Berbagi Cerita Motivasi dan Pengembangan Diri 

    ReplyDelete