Cerpen : Rinai rindu Untuk Naya

by 08:52:00 2 komentar

Bintang malam katakan padanya
Aku ingin melukis sinarmu di hatinya
Embun pagi sampaikan padanya
Biar ku dekap erat waktu dingin membelenggunya
Tahukah engkau wahai langit
Aku ingin bertemu membelai wajahnya
Kan ku pasang hiasan angkasa yang terindah
Hanya untuk dirinya


Lirik lagu rindu yang dilantunkan Kerispatih terdengar seperti rinai hujan di hatiku.
“Naya….” Nama itu masih bergema di hatiku. Selalu menimbulkan tanya dan rasa frustasi  di ego lelakiku. Membuatku berusaha keras mengambil proyek di tempat terpencil ini, berharap mampu menuntaskan rasa yang tak kunjung padam di hati ini. Dan beginilah hatiku….
Kapanpun bertemu dengannya hasilnya sama saja, aku tetap menjadi pecundang.

***

“Selamat pagi”  Sapa pendekku cukup membuat semua karyawan di ruangan itu bangkit serentak. Tapi tidak dengan dia, gadis manis berjilbab di pojok sana. Ia hanya mengangkat mukanya sejenak, mengangguk kecil  dan kembali sibuk dengan tumpukan pekerjaannya. Demikian pula ketika karyawan lain sibuk menyalamiku, Ia hanya mengatupkan kedua belah tangan di depan dadanya.

“Apakah kau mengenaliku????” Aku bertanya pelan di depan mejanya.
 “Bapak Adrian Jaya Rimboko,SE?” jawabnya tanpa sedikitpun menoleh ke arahku.
“P.hD ” jawabku cepat, mencoba menuai ketertarikan dan kagum di wajahnya. Dan hasilnya nihil.
 “Aku tak menyangka ada perusahaan yang mau menerima karyawan dengan jubah dan jilbab lebar sepertimu”
Ia hanya mengendikkan bahu mendengar kalimat yang kumaksud untuk menyindirnya.
”Tampaknya perusahaan ini lebih memilih kualitas ketimbang semua atribut konyol yang anda permasalahkan. Toh, aku hanya karyawan di balik layar, tak ada yang peduli dengan apa yang aku kenakan” senyum manisnya tersungging sedikit.
Sial, aku sungguh merindukan senyum  manis itu.

 “Maaf pak, mari saya antar ke ruangan Bapak” suara itu mengurungkan niatku untuk berbincang lama dengan wanita berjilbab lebar itu….Naya.
Apapun yang keluar dari bibirnya, meski sekedar gerutuan sungguh aku ingin mendengarnya. Tapi, diamnya sungguh tak terusik  membuatku sadar diri tujuan kedatanganku ke perusahaan ini tak semata untuk menatap wajahnya.

***
“Aku bosaaaan…” teriakku sekuat tenaga. Cukup untuk membuat semua bantal dan buku beterbangan ke arahku. “He…he…ayolah teman bantu aku menghilangkan kebosanan ini”.
“Tumben kamu bosan Dri. Biasanya kamu selalu sibuk kencan sampai tak mengenal kata bosan” Eko mengernyit serius. 
“Itulah kawan, aku sudah bosan dengan ini semua, mereka seperti  bunga yang terlalu pasrah diisap madunya oleh para kumbang”
“Kau kenal Naya…?” Tanya Rio mengantarkan hatiku mengenal nama itu pertama kali. “Gak tuh….sapa? bagaimana? berapa?” pertanyaan asalku cukup untuk mendaratkan jitakan Rio di kepalaku. Tumben wajah kalemnya tampak berang “Sorry bro, aku becanda lagi” aku terkekeh memasang wajah menyesal.
“Besok ikut aku, dia jaga stand  penerimaan anggota untuk organisasi  ekstern kampus”
“Aku ikut juga dong” Eko tak mau kalah.
Sikap Rio menggelitik penasaranku, alarm petualangku berdering nyaring seolah mengingatkanku akan buruan yang menyenangkan. Rio sahabat dekatku sejak kecil, sifatnya satu kali duanya denganku, bedanya ia lebih serius.
 ***

“Itu Naya…” tunjuk Rio. Aku dan Eko segera mengikuti arah tangan Rio. Kecewa melandaku, apa-apaan Rio, sejak kapan seleranya jauh menurun begini. Fiuuh…aku hampir segera beranjak tatkala gadis itu setengah berlari ke arah kami. “Assalamualaikum…” sapanya ramah, suaranya renyah.
 “Gimana mas? Jadi daftarnya?” Rupanya ia dan Rio sudah saling mengenal.
 Rio menatap kami penuh arti “Kalau kamu bisa membujuk teman-temanku untuk ikut bergabung, aku juga ikut” 
Jawaban  Rio menimbulkan senyum di bibirku juga Eko. Aku, ikut organisasi Mahasiswa Islam begini? Mimpipun tak pernah. Dan aku sudah setengah mendengar suara Naya yang akan merayu-rayu kami dengan berbagai cara sebelum kata-katanya kemudian justru membuatku terbengong-bengong.
“Oh…begitu ya? kalau gitu formulirnya saya tarik aja mas, kami gak butuh anggota yang bergabung cuma karena ikut-ikutan.”
 “Makasih mas….Assalamualaikum” Suaranya ringan tapi terdengar berbeda di telingaku dan…ia berlalu begitu saja. Rio menertawaiku yang masih terbengong lama menatap punggung Naya yang makin menjauh.
“Itulah maksudku, gadis itu tak menawan tapi dia punya sesuatu”
 “Berkarakter…” desisku pelan tapi cukup didengar oleh kawan-kawanku.
”Aku jadi penasaran pengen ikut tu organisasi” Eko berkomentar.
“Halah…paling ini triknya dia biar orang penasaran buat ikut, ayolah kita ladeni. Kita gabung yuk!” ujarku bersemangat.
Dan itulah kesalahan pertamaku…..

***
“Pak…pak Adrian” suara itu menyadarkanku dari lamunan panjang.
“Ah ya maaf, saya agak lelah setelah perjalanan jauh ini” gadis itu tersenyum mengerti.
“Baik pak, silahkan beristirahat sejenak, kontrak-kontrak ini saya tinggal. Silahkan dipelajari dulu”
 “Tunggu…”
‘Ya Pak, ada yang bisa saya bantu?”
“Saya ingin bertanya tentang salah seorang karyawan di sini, boleh?” tampaknya Ia cukup cerdas memahami nada suaraku.  
“Tentu pak…”ujarnya tersenyum.
”Gadis berjilbab lebar tadi….mmmm”
“Bu Naya pak”
“Ah ya…Naya, bisa kau ceritakan tentang dia?” Gadis itu tampak manggut-manggut. “Sebelum bekerja disini Bu Naya membuka Firma sendiri, Konsultan Akuntansi dan keuangan. Beliau hebat dibidangnya pak. Jadi bos berkeras menarik beliau ke perusahaan ini. Tentu saja segala syarat Bu Naya dipenuhi, baik soal pakaian, gaji maupun tunjangan-tunjangannya, terlebih Bu Naya dikontrak untuk tidak lagi menerima konsultasi dari perusahaan lain”.
“Keluarganya?”
“Suami maksud Bapak?” Aku hanya menganguk.
“Pak Dani, suami Bu Naya bekerja di salah satu Bank syariah di daerah ini Pak. Beliau juga membidangi beberapa LSM dan KPAI daerah”
 “Ada lagi pak?”
 “Mmm… apa kau tak heran dengan pertanyaanku?”
Gadis itu tersenyum sambil menggeleng “Bapak bukan yang pertama bertanya mengenai Bu Naya, karena penampilannya tergolong unik untuk lingkungan seperti kantor ini”.

Aku terdiam lama, meresapi dalam-dalam informasi ini. Diam-diam kesal merayapi hatiku. Sial, lagi-lagi aku menggerutu dalam hati. Sekali lagi Naya membuktikan dengan mempertahankan idealismenya, ia tetap bisa hidup berkecukupan.  Akh, aku lupa, Naya adalah wanita cerdas dan ahli dalam bidangnya. Kurasa gabungan idelisme dan kemampuannya itu menjadi nilai jual tersendiri di tengah persaingan dunia ini.
Diam-diam aku merasa malu mengingat sikapku 7 tahun silam tatkala mencoba membeli cinta Naya dengan bergram-gram emas. Fiuuhhh…
***

Aku terkaget-kaget tatkala menyadari hatiku begitu terpaut pada Naya. Tapi, saat aku menyadarinya rasanya semuanya sudah terlambat. Naya yang dulu kutemui pertama kali, berlari-lari lincah dalam balutan celana serta jilbab gaulnya berubah cepat. Penampilannya bertransformasi dengan indah. Balutan gamis panjang dan jilbab lebar kian memperanggun tampilannya yang memang manis. 

Naya semakin jauh dari hari-hariku. Bodohnya saat itu aku terbawa emosi begitu mengetahui azzamnya untuk tak berpacaran dan ingin menikah dini. Aku menganggapnya sekedar jual mahal dan saat itu aku merasa Naya tak akan kemana-mana. Pikirku, akulah satu-satunya lelaki yang ingin memilikinya.
Dan ya itulah kesalahan keduaku….

“Aku tak mengerti apa gunanya semua perhiasan ini, bawalah pulang dan jangan pernah menemuiku lagi” kali terakhir Naya dengan sukarela menjumpai dan berbicara langsung padaku. Aku termangu menatap kotak perhiasan di depanku. Kurang indahkah?
Dan saat keinginanku semakin besar untuk memilikinya, akupun melamarnya tentu saja dengan sepucuk surat yang kutitipkan pada ibu kostnya. Karena Naya benar-benar tak mau menemui atau mengangkat teleponku lagi.

Kali ini ia membalas suratku, tapi sialnya isinya singkat dan sangat mengecewakan.
“Aku telah menerima lamaran pria lain beberapa waktu lalu” Hei, jadi aku kalah hanya karena masalah waktu. Oh tidak bagaimana mungkin seorang Adrian bisa menerima kekalahan semacam itu. Aku nekad mencegatnya sepulang kajian rutin yang diikutinya. Dan mau tak mau dia terpaksa berbicara denganku.
“Naya aku serius, sebutkan syaratnya? Apapun…” ucapku saat itu.
“Kau sudah membaca suratku?”balasnya singkat.
”Aku tak bisa menerima jika ini hanya masalah waktu, kau masih bisa memilihku “
“Jika lebih cepatpun aku tetap tak akan memilihmu”
“Kenapa?””
 “Wanita dinikahi karena empat hal: karena hartanya, karena kedudukannya, karena parasnya dan karena agamanya. Maka hendaklah kamu pilih wanita yang bagus agamanya. Bukankah itu juga berlaku bagi pria?
“Apa yang salah dengan agamaku, aku Islam Naya. Dan aku yakin aku lebih fasih membaca kitab kuning daripadamu. Lebihnya aku tampan, kaya dan dari keluarga terpandang” Naya hanya menggeleng.
“Kau memang tak mengerti”
“Buat aku mengerti” ujarku keras kepala.
Naya menuliskan secarik alamat di sebuah kertas ”Temuilah Dani. Maka kau akan mengerti pilihan hidupku”
“Siapa dia? Lelaki yang akan menikahimu”tanyaku sinis. Naya hanya mengendikkan bahu dan bergegas meninggalkanku bersama teman-temannya. 

Amarah dan rasa penasaran menuntunku ke sebuah kos sederhana. Aku tak berniat menemui pria ini. Siapa namanya…Dani  ya Dani, aku hanya akan menilainya dari jauh. Aku ingin tahu kelebihan apa yang dimilikinya dan tidak dimilikiku.

“Pak, kenal Dani yang tinggal di sana?” tanyaku sambil lalu pada bapak penjaga warung tempatku membeli rokok.
“Mas Dani yang anak hukum itu mas?”
“Heeh” oh anak hukum toh pikirku.
“Jam segini sih jarang ada Mas, biasanya Mas Dani pulang ba’da Isya”
“Oh kemana dia?”
“Mas Dani sebentar lagi pindah ke Batam mas, tapi ia masih menyelesaikan kontrak magangnya di kantor notaris. Trus ya nanti habis maghrib ngajar anak-anak ngaji di masjid pojok sana mas. Ya selesainya paling ba’da isya toh mas”
“Eh…oalah ada toh masnya, itu mas yang pake baju biru” tunjuknya pada seorang pria yang sedang membuang sampah tepat di depan kos tersebut.

Naya pasti salah….apa lebihnya makhluk ini. Okelah dia tinggi mmm 180 cm mungkin, dan putih. Tapi, ya ampun apa-apaan jenggotnya itu, kacamatanya, celananya pula cantung…ckckckck.
Kubandingkan denganku, okelah tinggiku mungkin kurang sedikit dibandingkan pria  itu, tapi jelas aku lebih tampan. Penampilanku pun modis. Ya…aku jauh lebih keren daripada pria culun bertampang Harry potter itu. Naya pasti melakukan kesalahan. 

Aku memaksa menemuinya sekali lagi. Lagi-lagi harus mencegatnya sepulang kajian rutin yang diikutinya.
What now?” katanya dingin.
“Aku tetap tak mengerti Naya, tapi jika aku harus menumbuhkan jenggot dan merubah penampilanku untuk dapat menikahimu, I’ll do it” kataku mantap.
“Kau benar-benar tak mengerti Dri, aku….”
“Pergilah ukhti, biar aku menjelaskan pada saudara ini” Suara tegas itu memutus ucapan Naya.
Ah…siapa pula pria tua ini, penampilannya sama persis dengan Dani. Tapi, baiklah aku butuh penjelasan untuk memahami semua ini, dari siapapun.

Dan penjelasan pria tua yang ternyata ustad Naya itu membuatku pusing tujuh keliling. Aku tidak buta soal islam, meski tak mengecap bangku pesantren orangtuaku cukup baik memanggilkan orang alim ke rumah untuk mengajarku mengaji, dan membaca kitab kuning. Oke aku memang tak mengamalkan semua hal yang sempat aku pelajari. Tapi apa yang salah dengan menikmati hidup, aku akan berubah suatu saat nanti. Jika menikah mungkin.

Bukankah Islam itu tidak melulu soal jenggot dan celana cantung, iyakan???? Sunnah? yayaya….aku akan mempelajarinya pelan-pelan. Sangat pelan ternyata….
“Naya tunggu aku…” kataku mantap padanya
“Tidak…aku akan menikah”
“Tidak…kau akan menungguku” kataku yakin sekali, terlebih Naya hanya diam. Diam yang kusalah artikan bahwa ia akan menungguku. Jika kuingat sekarang diam Naya saat itu adalah bentuk keputusasaan atas kebebalanku dalam memahami jalan hidupnya.

Naya semakin menghilang dari keseharianku, semakin susah menemuinya karena kepindahannya ke pondok dan urusannya di kampus semata tinggal menunggu wisudanya. Tak masalah bagiku, karena akupun tengah sibuk mempelajari hal-hal baru sebagai syarat menyunting Naya.

Hal yang tak kuduga adalah Naya tak mengikuti upacara wisudanya, padahal aku bermaksud mengejutkannya dengan penampilan baruku. Naya telah pulang dan menikah dengan pria culun itu.
Aku marah saat itu, marah besar dan melarutkanku semakin jauh pada kenikmatan dunia yang menyesatkan.
7 tahun berlalu, aku semakin bersinar dalam kemilau dunia. Tapi, terasa ada yang kurang dalam hidupku. Bayangan Naya terus bermain dalam benakku, membuatku tak mampu menikahi gadis manapun yang disodorkan orangtua  juga rekan-rekan bisnisku. 

Meski masih jauh dari sosok Naya dan teman-temannya. Pelan-pelan aku memperbaiki diriku. Menjalankan sholat yang sejak kepergiaan Naya telah aku tinggalkan, sesekali mengunjungi masjid mendengarkan ceramah-ceramah dan sebagainya. Tapi kekosongan masih mengisi hatiku, menuntun langkahku menjelajahi kota kecil di pedalaman Kalimantan ini. Ya disinilah aku…menjumpai bidadari hatiku, Naya. 

Berharap ketidak bahagiaannya menjadi sedikit obat penenang bagiku. Mengira jika melihatku yang kini sukses bisa menimbulkan sedikit sesal dihati Naya karena telah menolakku.Tapi,  justru akulah yang merasa sesak karena ternyata Naya baik-baik saja.
***
“Bisa saya bekerjasama dengan Bu Naya?”
“Mmm…maaf pak, rasanya akan sulit” gadis itu tampak serba salah.
“Kenapa?” tanyaku penuh nada intimidasi.
“Bu Naya sudah mengajukan cuti sampai 3 minggu ke depan pak”
“Apa….?” Tanpa sadar aku menggebrak meja. Gadis itu tampak terkejut dan ketakutan.
“Maaf, saya hanya sedikit tersinggung. Apa perusahaan ini meremehkan saya sehingga tidak melibatkan staf-staf terbaiknya dalam proyek saya ini?”
“Sekali lagi maaf Pak, kami sudah menempatkan pengganti Bu Naya sebagai konsultan keuangan proyek Bapak, dan beliau tidak kalah ahlinya dengan Bu Naya”
“Tapi, saya ingin Naya..N- A-Y-A, jelas?” keryit terkejut  coba diredam oleh dua mata itu.
“Mmm…saya akan memberitahu Manajer atas keinginan bapak ini. Mohon maaf atas ketidaknyamanan ini”
Aku menarik nafas panjang, aku nyaris kehilangan akal sehatku. Naya…Naya…setelah 7 tahun merindukanmu, tak akan kubiarkan engkau menghindariku secepat ini. Kali ini aku akan memaksamu untuk melihat kepiawaianku, dan menyesallah karena telah mengabaikanku.
***
“Assalamualaikum….”
Aku tersenyum girang, suara Naya terdengar jernih di seberang sana.
“Saya Naya, Pak…”
“Ya, aku mengenali suaramu. Aku mentolerir ketidakhadiranmu beberapa hari ini, segera masuk! Banyak hal yang harus kita kerjakan…” Betapa aku begitu bermurah hati padamu, Naya….
“Kita? Saya tidak, mungkin Anda. Saya hanya ingin menyampaikan jangan mengintimidasi perusahaan lagi, karena sejak hari ini saya sudah mengundurkan diri”
“Apa? Naya..”
“Saya minta maaf jika di masa lalu saya pernah menyakiti perasaan anda. Tapi semua telah lama berlalu, saya berharap Bapak Adrian yang terhormat cukup bijak untuk tidak mengaitkan apapaun masalah bapak pribadi terhadap saya dengan profesionalitas kerja Bapak yang dalam hal ini melibatkan perusahaan tempat saya pernah bekerja”
“Naya, kau salah mengerti, jangan begitu….Naya tunggu, dengarkan aku…”
Tut…tut..tut…nada putus pada ponselku, benar-benar membuatku frustasi. Naya….Naya….mengapa begini.
Lagi-lagi aku membuat kesalahan yang membuat Naya semakin jauh dariku. Entah apa yang kuharapkan dengan semua ini…aku hanya ingin tau bagaimana mengatasi perasaanku selama ini.
“Rio…tolong aku!”
***
“Sudahlah Dri, lupakan Naya. Buka hatimu. Itu bukan lagi cinta tapi obsesi”.
Aku menggeleng pada Rio sahabatku, yang begitu baik. Ia bergegas terbang menemuiku di kota terpencil ini semata menolong aku….pria pecundang yang selamanya menjadi pecundang.
“Aku tidak apa-apa. Tolong selesaikan proyek ini untukku….”
“Kau mau kemana?” Rio berseru demi melihat aku yang beranjak pergi.
“Mencari ujung rasaku….”
***
Tawa ramai anak-anak memenuhi halaman asri rumah mungil itu. Dari jauhpun aku mengenali sosok tertawa yang bermain bersama mereka adalah Naya…bidadari hatiku. Hatiku entah berasa apa, rona bahagia begitu lekat pada wajah itu. 

Hatiku bergejolak, saat tampak sosok pria memeluk hangat Naya, mencium ringan pipinya untuk kemudian bergabung bersama anak-anak mereka. Aku tak tahu lagi apa yang menggerakkan langkahku menuju mereka. Dibenakku hanya ada Naya…Naya…dan Naya.

Wajah Naya tergeragap kaget dan pucat. Tawa anak-anak berhenti tiba-tiba. Seolah kehadiranku adalah alien yang menakutkan dan sangat tak diharapkan. Kenyataan itu semakin memerihkan hatiku. Hanya Pria itu yang tampak tenang menyalamiku meski tak menyilahkanku untuk sekedar menjejak teras rumah mereka. Tangan Naya mencengkram erat lengan pria itu, membuat darahku kian mendidih. 

Harusnya kulakukan ini sejak dulu, bukan setelah 7 tahun ini. Dengan segenap hati aku menatap pria itu “Aku mencintai Naya” ujarku lepas. Detik yang menegangkan bagiku. Karena sungguh ketenangannya menciutkan nyaliku. Aku membayangkan sebuah pukulan mendarat diwajahku, atau tendangan mencium perutku. Tapi apa yang kudengar benar-benar menghantam langsung kehatiku, menikam jantungku, dan meluluhlantakkan semua kesombonganku.

 ” Akupun  mencintai Naya, karena Allah” suaranya tegas dan penuh keyakinan.
Pertama kalinya aku menyadari kekuranganku di banding pria itu…..
***
Meski rasaku belum berubah,
Warna hatiku sudah menjernih,
Kesadaran teduh mengikis luka hati
Mengembalikan manusia kepada jejak yang fitri
Dan semoga, semua ketulusan itu
Meninggalkan jejak hidayah di hatiku…..
Semoga!

sarah amijaya

Developer

An ordinary woman, Blogger wanna be, Books lover, Happy wife and moms.

2 comments:

  1. Replies
    1. aduh saya emak2 rempong asli, jangan dipanggil bang atuh:)

      haha mau sih bikin cerpen bahasa banjar, tapi belon kesampaian

      Delete