Sahabat, hutang adalah suatu kewajiban yang harus kita lunasi, bagaimanapun caranya. Sayangnya, masih banyak orang yang menggampangkan urusan melunasi hutang. Bahkan tak sedikit yang sama sekali tak memiliki itikad baik untuk melunasi hutang yang dimilikinya.
Rasulullah shollallahu 'alaihi wa sallam bahkan sangat memperhatikan soal ini. Beliau pernah enggan menyolatkan jenazah yang masih memiliki tanggungan hutang, hingga salah stau sahabat bersedia melunasinya, maka barulah Rasulullah bersedia ikut menyolatkannya.

Referensi pihak ketiga
Sahabat, orang yang mati dalam keadaan masih membawa hutang dan belum juga dilunasi, maka untuk membayarnya akan diambil dari pahala kebaikannya. Itulah yang terjadi ketika hari kiamat karena di sana tidak ada lagi dinar dan dirham untuk melunasi hutang tersebut.
Beratnya soal berhutang ini juga digambarkan, sebagaimana seseorang yang syahid dijalan Allah, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi, kemudian dihidupkan kembali, kemudian terbunuh lagi, sementara ia memiliki hutang, ia tidak dapat masuk surga hingga hutangnya lunas terbayar.

Referensi pihak ketiga
Sahabat , ingatlah bahwa hutang adalah perkara darurat. Artinya seorang muslim harusnya tidak bermudah-mudah berhutang dan hanya dilakukan di saat sangat membutuhkan saja. Jika sudah mampu membayar, maka segera bayar, jangan menunda-nundanya untuk keperluan lainnya yang masih bisa ditangguhkan apalagi hanya untuk menuruti hawa nafsu terhadap benda-benda duniawi. Karena sengaja memunda membayar hutang padahal mampu adalah suatu kedzaliman.
Semoga kita terhindar dari hutang yang menggerus pahala kebaikan kita, dan semoga hutang yang kita miliki bisa segera terbayar lunas sebelum maut menjemput.

Referensi pihak ketiga
Sumber Referensi : mozaik.inilah.com/read/detail/2450559/awas-mati-dalam-keadaan-masih-miliki-utang
Sahabat, hari apa yang paling kalian nanti dalam seminggu?

Sumber Gambar: arah.com/article/36247/10-keistimewaan-hari-jumat.html
Tahukah kalian, ternyata hari Jum'at sangat pantas untuk dinantikan. Bukan karena Jum'at biasanya merupakan hari terakhir dalam hari-hari kerja melainkan karena keistimewaan yang dimilikinya.
Apa saja keistimewaannya? Banyak.
Dari riwayat Muslim, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menjelaskan bahwa hari paling baik dimana matahari terbit adalah hari jumat.
Pada hari itu Adam diciptakan.
Pada hari itu pula Adam dimasukkan ke dalam surga. Serta diturunkan dari surga.
Pada hari itu juga kiamat akan terjadi.
Pada hari tersebut terdapat suatu waktu dimana tidaklah seorang mukmin shalat menghadap Allah mengharapkan kebaikan kecuali Allah akan mengabulkan permintaannya.
Subhanallah, di antara sekian banyak keistimewaan hari Jum'at, terdapat waktu yang mustajab untuk berdoa. Sebagai manusia yang sangat butuh akan pengabulan doa dari sang Pencipta, kita bisa memanfaatkan waktu mustajab ini untuk berdoa.


Sumber Gambar: tamanfaidah.wordpress.com/2016/08/03/keutamaan-hari-jumat/
Dari berbagai pedapat ulama, ada dua pendapat yang paling kuat mengenai waktu mustajab tersebut, yaitu:
  1. 1. Waktu itu dimulai dari duduknya imam sampai pelaksanaan shalat jum’at
Hal ini sebagaimana riwayat Muslim, ‘Abdullah bin ‘Umar berkata pada Abu Burdah bin Abi Musa Al-Asy’ari “Apakah engkau telah mendengar ayahmu meriwayatkan hadits dari Rasulullah sehubungan dengan waktu ijaabah pada hari jum’at?”
Lalu Abu Burdah mengatakan,'Aku mendengar Rasulullah bersabda, Yaitu waktu antara duduknya imam sampai shalat dilaksanakan.'
2. Batas akhir dari waktu mustajab tersebut hingga setelah ‘ashar
Diriwayatkan oleh Abu Dawud 'Hari jum’at itu dua belas jam. Tidak ada seorang muslimpun yang memohon sesuatu kepada Allah dalam waktu tersebut melainkan akan dikabulkan oleh Allah. Maka peganglah erat-erat (ingatlah bahwa) akhir dari waktu tersebut jatuh setelah ‘ashar.'
Kita memang bisa berdoa kapan saja dan di mana saja, namun memanfaatkan waktu-waktu mustajab bisa menjadi sebab terkabulnya doa. Bagaimanapun doa adalah salah satu ibadah yang sekaligus kekuatan tak kasat mata yang merupakan bentuk penghambaan terbesar hamba kepada Rabbnya.


Sumber Gambar: daarulmuhsinin.com/jumat-barokah-14-ramadhan-1438h-09-juni-2017/

Sumber Referensi:
muslimah.or.id/74-ternyata-hari-jumat-itu-istimewa.html

Pria, adalah sosok tangguh yang dipundaknya dibebankan tanggung jawab kepemimpinan. Tanggung jawab tersebut dibebankan bukan tanpa alasan, namun pria memang diberi kelebihan dibanding para wanita.
Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Laki-lakilah yang seharusnya mengurusi kaum wanita. Laki-laki adalah pemimpin bagi kaum wanita, sebagai hakim bagi mereka dan laki-lakilah yang meluruskan apabila wanita menyimpang dari kebenaran".
Tapi, percayakah anda ternyata banyak pria tangguh yang diberi amanah kepemimpinan itu merasa sangat berat dan tak sanggup melakukan sebuah perjalanan.
Perjalanan yang terberat dan terjauh bagi para pria bukanlah perjalanan mengelilingi dunia, atau perjalanan berpeluh mencari nafkah, melainkan perjalanan menuju masjid. Ya, perjalanan menuju masjid yang bisa jadi jaraknya kurang 100 meter dari rumah tinggalnya.
Aduhai, ada apakah dengan para pria yang seyogyanya menjadi pemimpin bagi para wanitanya?
Bagaimanakah ia melakukan tugas berat kepemimpinan, jika ia tak sanggup memimpin dirinya sendiri untuk melangkah menuju masjid?
Sungguhlah, melabuhkan hati untuk memenuhi seruan-Nya memang tak semudah menuju tempat hiburan. Akankah hati kita yang lemah ini dipenuhi teori-teori Paulo, JJ Rouseau, Pestalozi, Fribel atau Komersky? Dan melupakan mutiara bening yang terkandung dalam Al-Qur'an dan Al-Hadist?
Semoga, seluruh pria-pria muslim diberi kemudahan untuk melangkahkan kakinya menuju masjid, karena sesungguhnya keutamaannya sungguh besar sekali.
“Shalat seseorang dengan berjama’ah lebih banyak pahalanya daripada shalat sendirian di pasar atau di rumahnya, yaitu selisih 20 sekian derajat. Sebab, seseorang yang telah menyempurnakan wudhunya kemudian pergi ke masjid dengan tujuan untuk shalat, tiap ia melangkah satu langkah maka diangkatkan baginya satu derajat dan dihapuskan satu dosanya, sampai ia masuk masjid. Apabila ia berada dalam masjid, ia dianggap mengerjakan shalat selama ia menunggu hingga shalat dilaksanakan. Para malaikat lalu mendo’akan orang yang senantiasa di tempat ia shalat, “Ya Allah, kasihanilah dia, ampunilah dosa-dosanya, terimalah taubatnya.” Hal itu selama ia tidak berbuat kejelekan dan tidak berhadats.” (HR. Bukhari no. 477 dan Muslim no. 649).
Jadi, wahai anda para pria muslim tangguh, sudahkah ke masjid hari ini???

Sumber Gambar: pixabay.com/id/volkswagen-petualangan-perjalanan-569315/
Sumber Referensi:
  1. Rumaysho.com/947-pemimpin-wanita-menurut-kaca-mata-islam.html
  2. rumaysho.com/3412-renungan-untuk-rajin-shalat-berjama-ah-di-masjid.html
Dikutip dari Adabul Mufrad, Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, berkata:
“Salah seorang dari kalian dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya tetapi dia lupa akan kayu besar yang ada di matanya.”
(Adabul Mufrad no. 592, shahih)
Ya, inilah kita manusia, lebih mudah mengetahui dan mencari-cari aib orang lain ketimbang menyadari aib dan kesalahan sendiri. Padahal kita seharusnya lebih peduli pada aib kita sendiri, adapun aib orang lain sesungguhnya kita tak mengetahui secara detail seluk beluk hati mereka.
Mencari manusia yang bersih dari aib, tentu perkara mustahil. Bahkan Al-Fudhail bin ‘Iyadh rahimahullah berkata,
“Barangsiapa mencari teman yang tidak memiliki aib, sungguh ia akan hidup sendiri tanpa teman.” (Sya’bul Iman no. 7887)
Sejatinya kita butuh banyak bercermin sehingga dapat melihat segala kekurangan dan aib kita. Dengan mengetahuinya, tentu kita akan merasa sungkan dan malu untuk membicarakan aib orang lain.
Pada kenyataannya kita masih sering menggunakan teropong untuk mengintai dan memata-matai prilaku orang lain, sehingga cermin kita berdebu, tak lagi bisa melihat kekurangan diri sendiri.
Ketahuilah, jika kita selalu melihat kesalahan orang lain, sesungguhnya ada yang salah dengan hati kita. Berhati-hatilah karena hati kita sangat butuh untuk diobati.
Abdullah Al Muzani rahimahullah berkata:
"Jika iblis memberikan was-was kepadamu bahwa engkau lebih mulia dari muslim lainnya, maka perhatikanlah:
Jika ada orang lain yang lebih tua darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Orang tersebut telah lebih dahulu beriman dan beramal sholih dariku, maka ia lebih baik dariku.”
Jika ada orang lainnya yang lebih muda darimu, maka seharusnya engkau katakan, “Aku telah lebih dulu bermaksiat dan berlumuran dosa serta lebih pantas mendapatkan siksa dibanding dirinya, maka ia sebenarnya lebih baik dariku.”
Demikianlah sikap yang seharusnya engkau perhatikan ketika engkau melihat yang lebih tua atau yang lebih muda darimu.” [Hilyatul Awliya’ 2/226]

Renungi aibmu sendiri (Sumber Gambar: marimembaca.com/2016/07/mengenal-aib-dirimu-sendiri.html)

Sumber Referensi:
  1. Muslimafiyah.com/gunakan-cermin-bukan-teropong.html
  2. rumaysho.com/1201-sibuk-memikirkan-aib-sendiri.html
"Berdoa aja, usaha woii....!"
"Usaha dulu yang maksimal baru doa...!"
"Malulah, minta-minta sama Tuhan, banyak dosa..."
Pernah berkata atau mendengar ucapan serupa dan semakna?

Doa, ikhtiar yang sering dilupakan manusia
Saya sering menemukan realita demikian. Rasa ketergantungan manusia kepada Tuhan semakin menipis. Seringnya berkata malu minta-minta sama Allah, akhirnya memilih bersandar pada sebab, fokus memaksimalkan usaha manusia, dan menjadikan doa sebagai ikhtiar terakhir atau justru meniadakannya sama sekali.
Terlebih jika usaha-usaha tersebut sukses dan berhasil gemilang (menurut manusia), maka makin lupa dan engganlah manusia untuk meminta kepada Rabb-nya.
Malu meminta kepada Rabb karena merasa tak pantas, banyak dosa, dan sebagainya, kebanyakan manusia, mengira itulah ketawadhuan, kerendahan hati, padahal itulah kesombongan, sekaligus tipu daya syaitan.

Hadist Shahih tentang Doa (image: Pixabay)
Lupakah manusia, bahwa Rabb kita tentu berbeda dengan makhluk.
Meminta-minta kepada sesama makhluk akan merendahkan derajat kita, menjatuhkan harga diri, dan menorehkan kehinaan pada wajah.
Adapun Allah, Rabb semesta alam, semakin sering engkau meminta kepada-Nya maka Dia semakin meninggikan derajatmu, semakin dekat denganmu, dan semakin mencintaimu.
Allah suka jika hamba-Nya menggantungkan diri dan memohon segala hal di setiap saat, hanya kepada-Nya, bahkan hingga urusan sepele semisal tali sandal yang putus.
"Hendaklah setiap kalian meminta kepada Rabbnya semua kebutuhan, sampai-sampai ketika tali sandalnya lepas” (Jami’ Al-‘ulum wal hikam 2/48, Mu’assasah Risalah, Beirut, cet. VII,1422 H, syamilah)
Maka mintalah segala hal pada Tuhanmu, bahkan perkara tali sandalmu yang putus!
Allah pun mengabulkan permohonan Iblis saat ia meminta:
“Beri tangguhlah saya sampai waktu mereka dibangkitkan”
Allah berfirman:
“Sesungguhnya kamu termasuk mereka yang diberi tangguh.” 
(Al-A’raf: 14-15)
Jika doa iblis saja dikabulkan apa yang membuatmu ragu hingga enggan berdoa?
Berdoa, adalah salah satu bentuk ibadah yang ketika melakukannya, tidak ada kerugian sedikitpun bagi kita. Doa akan kembali dalam tiga bentuk:
1. Doa yang dikabulkan dengan segera
2. Doa yang ditunda sebagai kebaikan di akhirat
3. Doa yang tidak dikabulkan namun dijauhkan dari keburukan yang semisal
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata: Tidak ada seorangpun yang berdoa dengan sebuah dosa yang tidak ada dosa di dalamnya dan memuutuskan silaturrahim, melainkan Allah akan mengabulkan salah satu dari tiga perkara, baik dengan disegerakan baginya (pengabulan doanya) di dunia atau dengan disimpan baginya (pengabulan doanya) di akhirat atau dengan dijauhkan dari keburukan semisalnya” HR. Ahmad
Maka, perbesarlah ketergantungan dan rasa tawakal kita kepada Allah. Ringankanlah hati dan lisan kita untuk berdoa:
“Ya Allah mudahkanlah”
“Ya Allah lancarkanlah”
Ataupun doa-doa harian yang mengiringi aktifitas kita dari bangun hingga beranjak tidur.
Jadikanlah doa sebagai ikhtiar utama dalam setiap sendi kehidupan kita, janganlah merasa malu, enggan, atau sombong untuk melakukannya!
Mintalah segala hal pada Tuhanmu, bahkan perkara tali sandalmu yang putus!

Hadist Shahih tentang berdoa (Image:Pixabay)
Bagaimana dengan anda? punya pengalaman tentang doa yang tak kunjung dikabulkan? atau justru keajaiban doa? Mari berbagi.
-------------
Sumber Referensi: Muslimafiyah.com

Seorang kawan menghubungiku,
"Mbak, putriku minta izin pacaran"
Ia mendadak diliputi rasa panik, gelisah, was-was, dan segala macam perasaan tak karuan.
.
Menjadi single parents membuatnya bekerja extra, baik sebagai ibu maupun sebagai ayah. Ia telah melewati kesulitan berkali lipat dibandingkan orang tua yang memiliki patner. Ia bekerja sendiri menghidupi dirinya dan anak-anaknya, hingga ia tak cukup siap dengan segala problematika anak yang beranjak dewasa.
.
Bahkan bagi pasutri harmonis, urusan mendidik anak tetaplah PR besar. Terlebih dengan dunia yang semakin uzur, urusan pendidikan anak menjadi semakin kompleks. Jika dulu kita cukup mewanti-wantinya soal hubungan dengan lawan jenis, saat ini kita wajib pula membekalinya dengan urusan sesama jenis. .
Back to my friends, menurutku ketika seorang anak masih mengkomunikasikan segala sesuatu kepada orangtuanya, itu adalah salah satu parameter keberhasilan pendidikan anak. Usia remaja yang jika merujuk pola pendidikan ali bin abi thalib radiyallahu anhu (14 tahun ke atas) adalah masa dimana kita menjadikan anak-anak selayaknya sahabat. Sehingga ia bisa bebas curhat, dan bertanya segala macam hal kepada orangtuanya, alih-alih curhat g jelas kemana-mana  atau mencari tahu sendiri hal-hal yang tak diketahuinya dengan cara yang keliru.
Termasuk meminta izin untuk pacaran, (hei zaman sekarang, dimana anak-anak mulai durhaka kepada orangtuanya dengan mengatasnamakan HAM, berapa banyak sih anak-anak yang masih melakukannya).
.
Pada kawan tersebut, aku hanya bisa menyarankannya untuk mengajak putrinya berdialog, menimbang baik dan buruk dan memilah-milah hal yang terbaik bagi masa depannya.
.
Aku pribadi memilih pendidikan  dini bagi putra putriku. Mengenalkan mereka pada standar baik buruk dalam timbangan pahala dan dosa, di mana setiap usaha tersebut diiringi dengan segala macam doa, karena sejatinya doa adalah
ikhtiar paripurna.
Hingga kelak jika tiba masanya, aku berharap tak pernah mendengar mereka meminta izin pacaran melainkan izin untuk menggenapkan separuh dien saja 😊
.
.
@30haribercerita
#30haribercerita
#30hbc1802

TOLERANSI ITU BUKAN MENJADI BUNGLON
.
Sebagai insan beragama, tanpa diminta kita pasti bersedia menerima keragaman. Yang mana hal tersebut tidak berarti kita menggadaikan keyakinan dan prinsip yang kita anut. .

Menerima keragaman (baca: toleransi) berarti membiarkan dan menghormati hal-hal berbeda di luar keyakinan dan prinsip-prinsip kita dalam legitimasi yang diatur oleh hukum agama maupun hukum negara tanpa mengganggunya, mengomentarinya, mencaci-maki,  atau membully baik verbal maupun non verbal.
.
Saling menghormati pilihan fiqh khilafiyah, itu toleransi.
.
Meyakini bahwa agama yang dianutnyalah yang benar, namun menjaga kerukunan dan menghormati peribadatan agama lainnya, itu toleransi.
.
Tidak saling mengejek, mencaci, dan membully pilihan orang lain, itu toleransi.
.
Bersatu-padu menjaga keutuhan NKRI, itu toleransi.
.

Tapi,
Mendukung komunisme, liberalisme, atheisme, sinkretisme,  LGBT-isme (*eh), itu INtoleransi.
.
Mengikuti dan berpartisipasi dalam berbagai ritual agama lain, itu toleransi SALAH KAPRAH.
.
pembiaran ataupun ketidakpedulian terhadap kejahatan, ketidakadilan, dan penindasan terhadap mereka yang berbeda, itu toleransi KEBABLASAN
.
Anyway, menjadi toleran tidak berarti menjadi bunglon.
Sebagai umat beragama kita punya standar baik buruk yang sudah jelas. Semuanya, ada di kitab suci masing-masing.
.
Jika kau masih bingung mana hitam, mana putih,
mungkin itu kode keras,
kau perlu ke dokter mata 😂
.
catatan sore @30haribercerita
#30hbc1804
#30haribercerita

Pernahkah anda mendengar teori Maslow? konon katanya tingkat tertinggi dari kebutuhan hidup manusia, adalah aktualisasi diri. Artinya, berdasarkan teori ini manusia perlu memenuhi kebutuhan-kebutuhan dasarnya sebelum naik ke tingkat selanjutnya dan selanjutnya lagi.
Kebutuhan fisiologi, rasa aman, kasih sayang, penghargaan, dan kemudian barulah aktualisasi diri.
.
Benar tidaknya teori tersebut, mungkin masih menjadi perbincangan hingga hari ini, namun di zaman now  kebutuhan aktualisasi diri rupanya setara kebutuhan dasar manusia.
orang-orang butuh sekali menunjukkan "who am i", mereka butuh diakui, butuh merasa dibutuhkan oleh orang lain (beeing needs). Jadi tak peduli kau cukup makan atau tidak, yang penting eksis dulu. Tak peduli seberapa banyak hutang, yang penting mewah dulu, tak masalah tekor yang penting kesohor.
Kau butuh menjadi jagoan, bahkan jika itu sekedar drama satu babak.
see? .
Bahkan orang awam bisa menyimpulkan, bahwa ini adalah gejala penyakit mental.
Dalam tataran personal, maka hal ini menjadi lebih sederhana, karna akibat dan tanggung jawab tak akan menyambar kemana-mana, selain berpulang ke diri pribadi.
Sialnya (upsss) urusan ini bisa jadi bukan hanya urusan personal tapi merambah ke segala instansi bermacam rupa.
.
How? saat kau dipimpin oleh manusia bergejala serupa.
.
Finally, aku teringat tulisan dr. Raehanul Bahraen " Hiduplah sesuai kemampuan jangan sesuai kemauan!" .
. .
catatan dini hari untuk @30haribercerita #30haribercerita
#30hbc1803

Finally, AAC 2 difilmkan. sebagai book lovers saya tidak berekpektasi tinggi pada film-film yang diangkat dari buku, sungguh mematikan imajinasi hahaha.
.
but anyway, saya mengikuti review2 para pecinta film yang sebagian kecewa dengan sosok superman ala Fahri.
.
Bagi saya pribadi, hal ini menunjukkan betapa jauhnya umat islam dengan ajarannya sendiri.
Ketika tokoh serupa Fahri dianggap superman, manusia halu, setengah dewa, etc. Lantas bagaimana tanggapan kita ketika membaca shirah nabi, shirah shahabat, kisah para tabi'in dan tabi'ut ???
.
Sekitar Februari 2016 saya menyelesaikan membaca AAC 2 dan mereviewnya di blog saya :
Fahri, prototype muslim sejati
.
Di sana saya menuliskan:
"Kalu dulu aku agak apatis,  lantaran menganggap Fahri itu tokoh yang "malaikat" banget. Sekarang aku bersyukur, meski tokoh imajinatif,  tapi Fahri berhasil menjadi role model muslim yang menjadi rahmatan lil alamin. Fahri-Aisha-Sabina ini bukan tokoh-tokoh serupa malaikat,  tapi mereka prototype dari akhlak seorang muslim sejati. .

Dan aku sangat sepakat dengan pandangan Kang Abik yang tertuang apik dalam buku ini,  seseorang yang beragama dengan sereligius-relegiusnya akan mampu menciptakan kedamaian di muka bumi ini. Dan seorang muslim yang mendalami ajaran agamanya akan menjelma menjadi manusia yang penyayang,  semakin ia memahami islam,  maka semakin penyayang ia, bukannya menjadi teroris ( i told before that terrorists are not muslim) "
_________
.
Sebuah film memang tidak dapat mempresentasikan segala hal yang tertuang di dalam buku, bahkan jika film tersebut terlihat sangat lost logic, mengapa tidak menahan diri dari mencaci dan mencoba mengambil remahan-remahan hikmah yang pastinya tetap termuat di sana.
Sayang waktu nontonnya, jika endingnya hanya untuk menghujat.
sesungguhnya setiap detik kita akan dimintai pertanggungjawaban. Maka berusahalah agar setiap hal yang kita lakukan bermanfaat, jika ia tak bisa menambah pahala maka minimal tidak menuai dosa.
.
Catatan pagi untuk @30haribercerita #30hbc1801 #30haribercerita

Jangan Latah!
"Si A lepas hijab loooh..."

"akhwat B yang itu, murtad loh, doi nikah sama si D"


"Si Z makin modis aja, Hijabnya dah kek butik berjalan"
---------------

Kabar-kabar serupa berseliweran di beranda Medsosku juga di puluhan WAG yang kuikuti.

Innalillahi wainna ilaihi rojiun.
Sesungguhnya berpalingnya hati dari kebaikan adalah sebuah musibah.


Ucapkan saja kalimat istirja, sertakan dengan doa agar kita dan saudara2 kita senantiasa diberi hidayah dan keistiqomahan. Kemudian tahanlah lisan dan tangan kita untuk berkomentar lebih jauh, terlebih komentar justifikasi seolah kita makhluk paling suci tak berdosa.

Melepas hijab, tentu bukan hal terpuji yang patut diapresiasi, terlebih perkara murtad, yang merupakan pengkhianatan besar terhadap KeEsaan Allah, Tuhan Sang Pencipta. Tapi tetap tidak menjadikannya patut dicela dan dihujat berbusa-busa.



Adalah benar, bahwa amar ma'ruf dan nahi mungkar merupakan karakter seorang yang beriman.  Di mana terdapat tiga tingkatan dalam mengingkari kemungkaran yang kita temui.
Dengan tangan, dengan lisan, dan dengan hati.

Tingkatan pertama dan kedua hanya wajib bagi mereka yang mampu melakukannya. Seperti penguasa dengan bawahannya, atau seorang suami terhadap istri, anak, dan keluarganya. Yang mana perlu diluruskan bahwa mengingkari dengan tangan tidaklah berarti dengan senjata dan atau kekerasan.

Imam Al Marrudzy bertanya kepada Imam Ahmad bin Hambal, “Bagaimana beramar ma’ruf dan nahi mungkar?” 
Beliau menjawab, “Dengan tangan, lisan dan dengan hati, ini paling ringan,” 
saya bertanya lagi: “Bagaimana dengan tangan?” 
Beliau menjawab, “Memisahkan di antara mereka,” 
dan saya melihat beliau melewati anak-anak kecil yang sedang berkelahi, lalu beliau memisahkan di antara mereka.

Dalam riwayat lain beliau berkata, “Merubah (mengingkari) dengan tangan bukanlah dengan pedang dan senjata.” (Lihat, Al Adabusy Syar’iyah, Ibnu Muflih, 1/185)

See? mengingkari dengan tangan tidak berarti kekerasan tapi lebih berupa tindakan nyata yang langsung bisa menghentikan kemungkaran tersebut.

Adapun dengan lisan adalah seperti memberikan nasihat yang merupakan hak di antara sesama muslim dan sebagai realisasi dari amar ma’ruf dan nahi mungkar itu sendiri, atau dengan menggunakan tulisan yang mengajak kepada kebenaran dan membantah syubuhat (kerancuan) dan segala bentuk kebatilan.

Dan, tampaknya pada tingkatan inilah, kita latah mengatasnamakan amar ma'ruf nahi mungkar sehingga tangan dan lisan kita ringan sekali berkomentar ini itu tanpa memperdulikan ruang waktu. ingatlah saudaraku ada adab menasehati dengan sembunyi-sembunyi, dengan memilih perkataan yang terbaik, dan tidak diketahui orang banyak. 

Adapun berkomentar langsung di akun-akun medsos, baik di postingan pribadi orang yang dimaksud, melalui tag dan mention, maka dalam hal ini, tanyakan hati kita apakah ini bentuk amar ma'ruf nahi mungkar? bentuk menasehati dalam  kebaikan? ataukah kita sebenarnya hanya sedang memuaskan hawa nafsu kita sendiri????


Dan selemah-lemahnya bentuk pengingkaran terhadap kemungkaran adalah mengingkarinya dengan hati. Tingkatan ini adalah wajib bagi setiap muslim, karena pengingkaran dengan hati seyogyanya mampu dilakukan oleh semua muslim. 
Jika kau melihat kemungkaran namun hatimu tak mengingkarinya, maka waspadalah!
Karena hatimu sedang sakit, ia tak peka pada apa yang terjadi, ia tengah kesulitan memaknai benar salah, baik buruk dan hitam putih.

Kembali kepada berita yang berseliweran tadi, tidak ikut berkomentar tidak berarti kita tak peduli, atau  mendukung semua hal-hal tersebut. Mungkin kita memilih mengambil ibroh.

Atas apa yang kita berdiri tegak hari ini, tidaklah menjamin akhir kehidupan kita. Kita tak pernah tahu dalam kondisi bagaimanakah kita berakhir.
Lebih baik atau lebih burukkah?
Beriman atau kafirkah?

Begitu pula dengan mereka yang telah kita cela dan hujat, kita tak pernah tahu ujian apa yang mereka jalani, dan who's know bagaimana pilihan kita saat ujian yang sama mendera.

Jangan Latah!!!
Tahanlah lisan dan tanganmu!
Karena bisa jadi beberapa waktu kemudian kita akan menyesali apa-apa yang telah kita ucap dan tuliskan.


Semoga Allah senantiasa memberikan hidayah kepada kita dan orang-orang yang ada disekeliling kita, aamiin. Washallallahu ‘ala nabiyyina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajma’in.

----------
Ref: https://muslim.or.id
 

ANTARA SINDIRAN DAN CELAAN
by: Sarah Amijaya

WARNING :TULISAN INI MENGANDUNG CURCOL!!!

"Sudah sering disindir, kok nggak paham-paham ya... "

"sengaja disindir, biar merasa"

_____
Sering nggak denger kalimat serupa?
Kalau sering, bisa jadi sindiran tersebut ditujukan padamu, hehehe.

Penting loh  untuk membedakan antara sindiran dan celaan.

Kenapa penting? karena keduanya amat sangat jauh berbeda. Meski untuk membedakannya perlu kecermatan tingkat tinggi sih.

Kalau kamu sedang dalam kondisi sensi, panik, bete tingkat tinggi, pusing, migrain, atau semisal, sindiran rasa kelapa muda juga berasa celaan kebun binatang sih.

Sebut saja perbedaan utamanya meliputi niat, kondisi, cara berpikir dan cara pandang seseorang.

Sindiran itu tergantung niat dan kondisi. Niat seseorang menyindir orang lain bisa jadi baik. Misalnya untuk meluruskan akhlaknya.

Pada seseorang yang berkarakter "saya selalu benar",  egois, mudah emosi, pemarah, pemberang, susah menerima nasihat, dan yang semisal, mengingatkan secara terang-terangan sama saja mengajaknya duel di ring tinju.
Maka menyindir bisa jadi cara efektif untuk mengingatkannya, tentu dengan bahasa yang baik dan tidak menyakiti hati seseorang.

Kondisi si penyindir juga penting.
Misal kamu sendiri tipe yang nggak bisa menyensor kata-kata, tidak bisa membedakan nasihat atau mencela, baiknya abaikan pilihan sindir menyindir ini. Apalagi kalau yang menyindir tak lebih baik dari yang disindir, alias punya karakter sebelas duabelas, adanya makin panjang dan runyam urusan.
iya toh?

Sindiran juga terkait pola pikir serta cara pandang.

Meski niatnya baik untuk menasehati, tapi jika tidak punya kesamaan pola pikir dan cara pandang, maka sindiran akan berubah menjadi celaan, yang mana kita semua mengetahui bahwa celaan adalah sebuab hal yang buruk.

Misalkan, seseorang yang menyindir orang lain untuk memendekkan jilbabnya

"oh please, kalau jilbab selutut pake mukena aja sekalian"

"hellow, ini kantor keles, sok alimnya pas pengajian aja yee"

Nah, bayangkan materi sindirannya aja udah bisa diperkarakan panjang lebar.

pihak penyindir merasa lingkungan kantor/instansi pemerintahan hanya layak menggunakan jilbab seukuran 115x115, kalau kamu pake jilbab seukuran 150x150 sama dengan bikin kumuh, melanggar peraturan dan kamu boleh memilih untuk berhenti (yeah, pemikiran seseorang memang menunjukkan bagaimana pemahamannya)

apakah sindiran ini efektif? Jawabannya jelas, BIG NO.

karena pihak yang disindir dan menyindir sudah punya cara pandang dan pola pikir yang berbeda.

Bagaimanapun, memakai jilbab bukan sekedar trend fashion, yang bisa dipendekkan, dipanjangkan, atau justru dilepas sesuai situasi kondisi.

Panjang pendeknya jilbab, longgar ketatnya pakaian memang tidak menjadi patokan seberapa baik akhlakmu, tapi  jelas sudah menunjukkan cara pandang yang berbeda dalam memahami syariat yang sama. Syariat berhijab.

Tidak perlu saling klaim pemahaman siapa yang lebih tepat, mari sama-sama belajar, dan saling menghormati dalam proses belajar tersebut. that simple!

Jika dikaitkan dengan peraturan instansi yang notabene aturan buatan manusia, masa iya pantas dibandingkan dengan aturan Sang Pencipta alam semesta???

Think big, think more, be smart please...

Ups, curcol detected 😬

Mungkin lebih tepat jika saya berkata:

"duhai cantik, ulurkanlah jilbabmu, lebarkanlah bajumu, karena tubuhmu begitu berharga😘😘😘"
_please, tersindirlaaaahhhh 😀

Sekali lagi, bedakan antara sindiran dengan celaan.

Seringkali kita tergelincir ke dalam suatu keributan karena salah mendefinisikan suatu permasalahan.

Namun juga jangan lupa, bila kita menasihati dengan bahasa tidak terbuka (sindiran) itu dengan tujuan atau maksud yang hina yaitu;
agar kekurangannya terbuka,
ingin membalas dendam dan kedengkian yang tinggi terhadap orang yang kita sindir,
atau dengan menyebut nama seseorang yang kita maksud.

Maka hal yang seperti inilah yang tidak dibolehkan agama.

Sebagaimana Firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah suatu kaum mengolok-olok kaum yang lain, (karena) boleh jadi mereka (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari mereka (yang mengolok-olokkan); dan jangan pula wanita mengolok-olokkan wanita-wanita lain., karena boleh jadi wanita-wanita (yang diperolok-olokkan) lebih baik dari wanita (yang mengolok-olokkan); dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri dan jangan pula kamu panggil-memanggil dengan gelar yang buruk. Seburuk-buruk gelar ialah (panggilan) yang buruk sesudah iman..”

(QS al-Hujurat 11).

Makanya agar kehidupan kita lebih tenang dan nyaman marilah kita saling menjaga lisan dengan sebaik mungkin, serta saling memahami posisi masing-masing sesama kita.

________
Ref :materi bimbingan islam ust. Rosyid Abu Rosyidah

PS: ini tulisan super ringan, yang ditulis menjelang tidur.
Jika anda membaca dengan ekspektasi tinggi maafkeunlah!
Jika anda membaca kemudian merasa sedikit sakit hati maafkeunlah!

just wanna say, i'am proud being muslimah.
when u disturb my principle that just mean one thing : War begin!

happiness is simple thing.
even when you walk alone,

this world still beautiful to alive.
a brown trail, green plants, n blue sky.
it is enough, isn't it?
#bluesky #happiness #live
@sarah amijaya instagram


"Hampir lupa rasanya bahagia", tulisan tersebut keterangan capture fhoto yang diunggah seorang kawan di salah satu laman medsosnya. Aku mengenalnya sejak masih berseragam putih abu. Mengikuti dengan tidak itens perjalanan naik turun hidupnya. lost contact beberapa lama, dan kini kembali bersua.

Jika kau tanya bagaimana penampilannya? aku akan jawab dengan satu kata. "keren". Bahkan dengan semua kemelut hidupnya. Oh hei, aku tidak menulis untuk mengisahkan perjalanan hidupnya, aku menulis sebagai dokumentasi, karena bisa jadi suatu saat aku yang merasa hampir lupa rasanya bahagia. Oh Nooo..... i wish its never be.

Bahagia, kata sederhana yang semua orang ingin mencecapinya. Bahagia, sebuah pencapaian yang tidak semua orang bisa meraihnya. Terlebih dengan definisi bahagia yang memiliki banyak varian.
Meski kebanyakan kebahagiaan yang berhasil terdefinisi tersebut, hanyalah kebahagiaan semu.

let's i tell u...
Pernah melihat anak-anak yang berlarian dengan kondisi dekil,  tidak beralas kaki, bahkan sebagian pakaian mereka koyak, anehnya mereka tertawa dengan teman-temannya?
Tidakkah tawa mereka kau sebut bahagia?

Kau mungkin bisa menemui pasangan manula yang duduk bercengkrama di teras rumah mereka, saling memandang dengan penuh kasih, berbicara teduh, ditengah celoteh anak cucu yang terdengar gaduh.
tidakkah kau pikir, mereka bahagia?

Di sekitarmu, mungkin pula terdapat seorang tetangga, dengan rumah mewahnya yang dikelilingi pagar tinggi. Selain lampu-lampunya yang benderang kau mungkin akan mengiranya istana tanpa penghuni. Tetap saja, mereka mungkin bahagia, dengan caranya sendiri. Hei, mereka kayakan? mungkin bahagianya tak selevel denganmu, sehingga kau tak pernah melihat atau mendengar tawa mereka.

Begitulah, bahagia punya banyak versi, dari yang paling simple sampai yang complicated.

Tapi, islam mengajariku bahwa bahagia adalah ketika kita merasakan manisnya iman.

Bahagia diraih oleh mereka yang menempuh jalan ketaatan. Orang-orang yang menjalankan perintah-perintahNya dan meninggalkan larangan-laranganNya.

Bisa jadi di antara mereka adalah orang-orang yang makan di satu hari dan berpuasa beberapa hari, namun ia adalah orang yang benar-benar bahagia layaknya pemilik seluruh dunia dan isinya.

Jadi, Sarah...

Jika suatu saat kamu merasa tidak bahagia, coba tengok ke dalam hatimu, dan ukurlah level imanmu!!!

Mungkin kamu butuh charger.


````````
Catatan kecil, 26 Ramadhan 1438 H.








Setelah rafi talk giliran kakak amatullah dong ^_^

Me: What is something I say a lot
Amatullah(A): Sholat, mandi, jangan gangguin adek-adek (miriplah dengan jawaban rofi, tapi memang sih kakak ama super jailnya)

Me:What makes me happy?
(A): kaka nggak gangguin adek-adek

Me: What makes me sad?
(A): kaka berantem sama duo adek ituh

Me:How tall am I?
(A): ya, setinggi amalah (haish, ketahuan deh, emaknya bentar lagi kebalap tingginya)

Me: What's my favorite thing to do?
(A): baca

Me: What is my favorite food
(A): semuanya (hahaha...kan nggak boleh pilih-pilih makan kak yaa?)

Me: What is my favorite drink?
(A): air putih 

Me: If I could go anywhere, where would it be?
(A): ke surga

Me:What is my favorite TV show?
(A): drakor (haish, si kaka jujur amat)

Me: What is my favorite music?
(A): bukan musik mi, itu murottalkan?

me:What is my job?
(A): dirumah ya ngurus anak-anak, kalau dikantor nggak tau deh (xixixixi)

me:what's my favorite color?
(A): hijau apa biru

me: How much do you love me?
(A): tidak bisa digambarkan deh


me:Do you think you could live without me?
(A):oooh tidaaaak (screaming)
=============
Sometimes, child make you angry, make you confused or feel like crazy, but honestly they love u much as you love them.

Thanks for being my lovely daughter Amatullah, wish Allah always bless u ^_^